JOGJA – Menonton penampilan tari tidak hanya sekedar menikmati gerakan penarinya. Tapi juga membangun imajinasi. Itu yang dilakukan oleh kelompok tari dari Belanda De Stilte saat pentas di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta rabu malam (16/1).

De Stilte, sebuah dance company asal Belanda mementaskan kembali repertoar berjudul Flying Cow. Dutch Ministry Of Foreign Affairs, Joyce Nijseen mengatakan pertunjukan tersebut merupakan pertunjukan tari yang menceritakan sesuatu seperti puisi. Dengan gambaran yang bisa membuat penontonnya berimajinasi sendiri.

“Apa yang dilihat dan apa yang sedang terjadi tidak ada yang benar dan yang salah,” jelasnya. Menurut dia koreografer Flaying Cow memang tidak bermaksud membuat cerita yang harus dipahami yang sama oleh semua orang yang menontonnya seperti melihat bentuk awan, namun bisa saja seseorang melihatnya lain.

Flying Cow merupakan karya koregrafer Jack Timmerman yang mengisahkan tentang persahabatan, solidaritas, bermain, sekaligus memancing imajinasi penonton. Repertoar tersebut terutama untuk memunculkan rasa ingin tahu pada anak-anak. “Melalui gerak atau koreografi yang artistik dalam dukungan tata suara dan pencahayaan yang dinamis,” katanya.

Bekerjasama dengan Warta Jazz, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis mengundang dan memfasilitasi beberapa panti asuhan di Jogja untuk menyaksikan repertoar tersebut. Melalui bermain, anak-anak belajar tentang dunia mereka menggunakan hati dan jiwa mereka. Mereka bisa belajar bagaimana memposisikan diri dalam masyarakat yang terus berkembang. “Bermain adalah kebalikan dari rutinitas sehari-hari: tempat latihan pribadi anak. Saat bermain, anak-anak bertemu dunia dengan syarat dan format mereka,” ujarnya.

Sementara dalam hal teknis tata cahaya yang ditangani Pink Steenvoorden dan tata suara oleh Timothy van der Holst, De Stilte menerapkan standar minimal yang bisa mendukung pementasan. Beruntung concert hall TBY memiliki sound system dan akustik ruangan yang memadai untuk penampilan De Stilte terlebih lebar panggung concert hall TBY lebih dari cukup untuk repertoar Flying Cow yang mensyaratkan minimal 9 m x 9 m dalam balutan warna hitam. Sehingga tiga penari (dancer) Gianmarco Stefanelli, Tessa Wouters, Kaia Vercammen bisa tampil secara maksimal dan leluasa merespon keseluruhan space pada panggung. (cr8/pra/fn)

Jogja Raya