JOGJA – Persiapan Dhaup Ageng pernikahan putra sulung KGPAA Paku Alam X terus dikebut. Termasuk dengan merangkai penjor dan bunga. Puluhan penjor dengan beragam bentuk rencananya akan dipasang.

Dikerjakan oleh lebih dari 40 pengrajin, penjor atau tiang bambu yang dilengkapi kerajinan janur akan menghiasi luar area acara Dhaup Ageng. Sedangkan rangkaian bunga akan ditaruh di sudut-sudut ruangan.

Koordinator pengrajin dari perhimpunan penggemar rangkaian bunga Mayasari Indonesia Sita Adishakti mengatakan, pengarajin yang terlibat tak hanya kalangan perhimpunan. Tapi juga sukarelawan dari masyarakat. “Nantinya ada beragam bentuk penjor. Seperti gunungan, lengis, dan plentung,” katanya saat ditemui di sisi utara Pura Pakualaman Kamis (3/1).

Dia mengungkapkan tidak ada makna dan filosofis khusus. Namun diakuinya tradisi pemasangan penjor telah dilakukan secara turun temurun. Terlebih jika ada acara-acara besar seperti pernikahan. Sementara itu, bahan dasar penjor berupa daun muda pohon kelapa, diambil dari produsen khusus. “Nggak ada kiat khusus supaya penjornya awet dan segar. Makanya dikerjakan H-2 menjelang acara,” ungkap Sita.

Terkait rangkaian acara Dhaup Ageng, pada hari ini (4/1) berlangsung siraman lalu dilanjutkan prosesi midodareni. Siraman tersebut hanya bisa dihadiri oleh keluarga dekat kedua calon pengantin, yakni BPH Kusumo Bimantoro dan dr Maya Lakshita Noorya.

Tadi malam (3/1) diselenggarakan doa bersama dan pengajian. “Pengajiannya membaca surah Ar-rohman,” kata oleh salah seorang Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng Mas Ngabehi Citropanambang saat jumpa pers kemarin.

Hingga kemarin, pihak Pakualaman telah menyambut kedatangan pihak pengantin perempuan. “Rombongan keluarga mempelai perempuan sudah ditunjukkan tempat-tempat. calon pengantin perempuan, sekaligus beradaptasi,” ujar Citropanambang. (cr9/pra)

Jogja Raya