JOGJA – Masyarakat dan wisatawan yang biasa membeli gudeg di Sentra Gudeg Wijilan harus memutar lebih jauh. Itu karena pintu masuknya, Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan ditutup untuk perawatan.

Sejak 29 Oktober hingga 3 November nanti, Plengkung Wijilan tidak bisa dilewati kendaraan karena bagian dalam terowongan sedang diperbaiki.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pengembangan Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya (PWBCB) Dinas Kebudayaan DIJ Agus Suwarto menjelaskan perawatan cagar Plengkung Wijilan meliputi pembenahan plester dinding yang rusak, pengecatan ulang dengan menggunakan cat kedap air.

“Kami juga melakukan perawatan prasasti di atas plengkung dengan mengerok dan mengecat ulang,” jelasnya kemarin (30/10).

Agus menambahkan pekerjaan juga dengan membuat saluran air hujan di atap bagian atas bangunan. Termasuk penguatan kembali sudut-sudut benteng dan penggantian sebagian lantai di bagian atas menggunakan batu andesit

“Di sekitar lokasi juga dilakukan pemangkasan pohon agar melindungi fisik bangunan,” katanya.

Untuk tampilan plengkung juga ada pembaharuan, dengan lampu sorot yang sebelumnya ada di depan relief gerbang akan dicopot. “Itu karena bukan merupakan bangunan asli dan malah terkesan menutupi,” tuturnya.

Selain di Plengkung Wijilan, perbaikan bangunan cagar budaya juga dilakukan perawatan di beberapa lokasi. Seperti Pojok Beteng Wetan, Plengkung Gading, Pojok Beteng Kulon dan Pojok Beteng di sisi Barat Laut.

Untuk anggaran perbaikan yang disiapkan sebesar Rp 950,868 juta. “Direncankan kelima proyek ini bisa selesai pada 3 Desember tahun ini,” tuturnya.

Setelah penutupan Plengkung Wijilan, mulai 12 November mendatang Disbud DIJ giliran menutup jalan di bawah Plengkung Gading untuk pekerjaan yang sama.

Sedangkan untuk proyek lain, seperti Pojok Beteng tidak perlu dilakukan penutupan jalan.”Untuk model revitalisasinya tak jauh berbeda dengan Plengkung Wijilan,” jelas Agus. (cr5/pra)

Jogja Raya