JOGJA – Sebanyak 10 bangunan heritage yang berada di daerah cagar budaya Pakualaman mendapatkan penghargaan dari Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Jumlah itu terpilih dari total keseluruhan 25 bangunan yang masuk nomine.
Dari jumlah itu, sembilan di antaranya berupa rumah tinggal. Sedangkan satu lagi adalah Ndalem Harjokusuman. Bangunan-bangunan ini terpilih menjadi bangunan sejarah yang berada di Kecamatan Pakualaman dan Kecamatan Mergangsan. Bangunan-bangunan tersebut dihuni dan dirawat dengan tujuan pelestarian nilai estetik dan menjaga unsur kebudayaannya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Eko Suryo Maharsono menjelaskan, acara penghargaan pelestarian bangunan heritage bertujuan untuk melestarikan bangunan yang memiliki nuansa budaya. Acara ini adalah penghargaan bangunan heritage kedua, setelah sebelumnya telah terpilih 10 bangunan heritage di kawasan cagar budaya Kotagede.

Eko berpesan, pemilik bangunan harus bangga dengan bangunan yang dimiliki dengan ciri khas Jogja. Hal ini bisa membuat bangunan tersebut menjadi ikon dan berbeda dengan bangunan-bangunan modern yang menjamur saat ini. “Dan biasanya bangunan seperti ini dicari masyarakat luas. Setidaknya untuk berfoto-foto,’’ kata Eko.

Menurut Eko, masyarakat sempat takut saat bangunan yang ditinggali akan dijadikan nomine. Mereka mengira, bangunan yang mereka huni akan dijadikan warisan budaya. Selain itu akan mempersulit proses renovasi atau pembangunan yang akan dilakukan di masa mendatang.

“Ke depan, pelestarian bangunan heritage akan terus dilakukan Dinas Kebudayaan Kota Jogja,’’ jelasnya. Namun, hal ini juga menemui kendala. Sebab, perawatannya yang mahal, menjadikan masyarakat banyak merenovasi dan mengubah bangunannya menjadi gaya modern dan minimalis.

Salah satu penerima penghargaan Anne Handayani mengaku bangga rumah miliknya mendapatkan penghargaan. Anne mengaku selalu merawat bangunan miliknya dengan baik. Ia tidak mau mengubah bentuk bangunan, karena memiliki sejarah yang harus dijaga secara turun-temurun. “Perawatannya memang susah-susah gampang, tidak seperti merawat rumah modern,” kata Anne. (cr7/din)

Jogja Raya