JOGJA – Agustus lalu masyarakat Jogja merasakan suhu dingin, terutama saat pagi, hingga dibawah 18 derajat celcius. Tapi saat ini, di siang hari, masyarakat juga harus terbiasa merasakan cuaca panas hingga 35 derajat celcius. Pada saat bersamaan debit air juga mulai meunurun karena kemarau.

Menurut prakirawan Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogja Sigit Prakosa, cuaca panas yang dirasakan warga Jogja belakangan ini merupakan dampak masa pancaroba. Kondisi tersebut rutin terjadi setiap tahun.

“Pada Oktober ini matahari sudah melewati equinox pada 23 September, justru ini sudah mengarah ke selatan,” jelasnya pada Radar Jogja belum lama ini.

Diperkirakan, lanjut dia, sekitar pertengahan Oktober matahari sudah berada di atas Pulau Jawa. Nah, posisi matahari ini menyebabkan peningkatan radiasi matahari di Pulau Jawa khususnya di DIJ. “Cuaca panas akan berlangsung hingga akhir Oktober,” katanya.

Bergersernya matahari ke arah selatan, praktis membuat masyarakat merasakan panas yang lebih terik. Namun, ketika diikuti pembentukan awan hujan atau comulonimbus, siang dan sore hari tidak merasakan panas yang ekstrem.

Terutama di wilayah-wilayah berpotensi hujan seperti Kulonprogo dan Sleman bagian utara. Karena awal musim penghujan bergerak dari utara ke selatan yang dimulai sekitar bulan November.

Dampak lama tidak hujan sudah dirasakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamarta. Direktur Utama PDAM Tirtamarta Dwi Agus Triwidodo menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan aliran air kecil. Mulai dari musim kemarau hingga neraca air yang tak seimbang.

“Debit air di Kota Jogja ini rata-rata 550 liter per detik,” ujarnya saat menerima rombongan Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja di kantornya kemarin (4/10).

Namun, lanjut Dwi, karena musim kemarau yang cukup panjang, fluktuasinya saat ini sedang menurun.

Terlebih saat jam-jam puncak. Dwi menyebutkan jam-jam puncak masyarakat menggunakan air yakni pada pukul 05.00-07.00 dan 16.00-19.00. Ia menyarankan agar masyarakat menggunakan tandon air sebagai tabungan. “Kondisi yang pas-pasan tersebut masih harus dibagi dengan pelanggan kami yang lain,” kata Dwi.

Kedatangan Forpi Kota Jogja sendiri karena mendapatkan keluhan dari warga Kota Jogja yang mengaku debit air dari PDAM Tirtamarta mengecil. “Warga mengeluh, untuk mengisi satu ember kecil saja butuh waktu 15-20 menit,” ujar Koorfinator Forpi Kota Jogja FX Harry Cahya. (tif/cr9/pra)

Jogja Raya