JOGJA – Harga cabai yang masih stabil tinggi dalam beberapa bulan terakhir, membuat pengusaha kuliner di Jogjakarta menjerit. Akibatnya, para pengelola dituntut memutar otak menyiasati kenaikan harga itu.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Kuliner Indonesia (Aspekindo) Widyatmoyo menjelaskan, sudah beberapa bulan pengelola kuliner membeli cabai dengan harga di atas Rp 100 ribu per kilogram. Bahkan di beberapa tempat harga cabai mencapai Rp 130 ribu per kilogram.

Harga tersebut dinilai pegelola kuliner di luar kewajaran. Sebab sebelum membumbung tinggi, harga cabai hanya berkisar Rp 30 ribu-Rp 45 ribu per kilogram.

“Tentunya ini akan berpengaruh pada kualitas masakan yang disajikan. Terutama bagi kuliner-kuliner yang menyediakan menu sambal,” jelas Widyatmoyo dalam keterangan persnya di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIJ, Jalan Gamibran, Umbulharjo, Kota, Jogja kemarin (17/2).

Dikatakan, kuliner sebagai salah satu pendukung wisata di Jogjakarta. Dengan harga cabai yang semakin membumbung tinggi, dikhawatirkan akan berpengaruh pada kenaikan harga-harga kuliner yang cukup signifikan. Terutama kuliner pedas yang berbahan baku cabai.

Dia menuturkan warung kuliner yang menjual kekhasan sambal kini harus memutar otak agar sambal-sambal itu bisa tersaji. Saat harga cabai rawit merah per kilogram di kisaran harga Rp 30 ribu, pengelola mematok harga sambal Rp 2.000 per porsi. Namun dengan kenaikan harga cabai, harga per porsi sambal bisa mencapai Rp 10 ribu. “Harga seporsi sambal bisa sama dengan harga makan dengan ayam potong,” ujarnya.

Namun, sambungnya, menaikkan harga sambal bukan sebuah solusi yang tepat. Oleh karena itu, jalan keluar yang bisa dilakukan mengurangi kadar kepedasan sambal yang dibuat.

Sementara itu, Ketua PWI DIJ Sihono menjelaskan, pihaknya mencoba menjembatani para pengelola kuliner di Jogjakarta untuk mendapatkan harga cabai yang sesuai. Cara yang dapat dilakukan yakni dengan menggelar diskusi publik yang melibatkan stakeholder, pengelola kuliner dan asosiasi petani cabai yang rencananya digelar 22 Februari mendatang.

“Semoga pemerintah bisa mendengar dan membentuk tata niaga cabai,” jelasnya. Dalam diskusi itu akan digelar pula penandatanganan nota kesepahaman antara Aspekindo dengan Gapoktan Giri Makmur, Magelang, yang memiliki 700 anggota dengan pengelolaan lahan cabai seluar 500 hektare. (bhn/laz/mg2)

Jogja Raya