ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
VISUAL JALANAN: Kendaraan umum Transjogja melewati tulisan “City of Tolerance ?”, di bawah Jembatan Kewek, Jogjakarta.
BANTUL – Acara workshop dan pertunjukan musik Lady Fast di Sur-vive Garage Jalan Bugisan, Tirtonir-molo, Kasihan Bantul digeruduk dan dibubarkan paksa oleh sekelompok orang, Sabtu (2/4) pekan lalu. Keja-dian pembubaran paksa Lady Fast pekan lalu, masih diingat betul oleh Juwadi. Ia yang juga seorang seniman, menjadi saksi mata penyerangan sekelompok orang yang meminta acara dibubarkan. “Malam itu saya lagi gendong anak saya yang umurnya dua tahun, lalu tiba-tiba ditantang berkelahi oleh kelompok intoleran itu. Itulah yang terjadi,” katanya, kemarin.Sebelumnya, Juawadi mengaku sangat menikmati acara musik Lady Fast bersama istri dan anaknya. Kejadian itu tentu saja membuat keduanya trauma. Dengan beberapa seniman dan aktivis, Juwadi kemu-dian membentuk Forum Solidaritas Jogja Damai. Forum ini bertujuan untuk merespon aksi intoleransi yang marak terjadi di Jogjakarta.Juwadi dan kawan-kawan, salah satunya seniman Street Art Patub Porx, kemudian membuat mural di beberapa tempat. Di Jembatan Kewek Kota Jogja, tembok dicat dengan tulisan yang berbunyi “City of Tolerance?”. “Ini salah satu kritik kami terhadap apa yang sedang terjadi di kota ini, kota yang memiliki jargon The City of Tolerance. Namun faktanya apa ?,” tanya Juwadi.Sedangkan Patub mengatakan, se-lama ini kasus intoleransi di Jogja banyak terkait dengan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Se-perti kasus Ahmadiyah, Syiah, Pondok Pesantren Waria dan pembubaran diskusi serta nonton film yang dinilai menyebarkan paham komunisme. Namun baru kali ini, kelompok in-toleran menyerang para seniman. “Sebelumnya ada penolakan pa-meran di Tembi, tapi itu tidak sampai ribut. Baru di acara Fast Lady kema-rin yang besar. Kita seniman, khawa-tir selanjutkan kami yang akan men-jadi target. Kebebasan berekspresi dalam kesenian yang diancam untuk dihabisi,” tandasnya. (riz/dem/ong)

Jogja Raya