JOGJA – Sejumlah elemen masyarakat menggelar ruwatan di Kali Code, kemarin. Diawali reresik sepanjang Kali Code dari Jembatan Gondolayu hingga Jembatan Amarta, doa perdamaian dipanjatkan sebagai simbol.

Ketua Panitia Pedro Idarto menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memancing kesadaran menjaga kebersihan. Tidak hanya lingkungan tapi juga hati. Doa yang dipanjatkan pun bersifat universal tanpa memandang agama dan golongan.

“Sungai itu juga salah satu sumber kehidupan manusia. Kalau kita tidak bisa menjaganya bagaimana dengan kehidupan. Dalam kesempatan ini kita juga berdoa untuk keselarasan alam dan untuk kemanusiaan,” ujar Pedro di bawah Jembatan Amarta, Kleringan (30/3).

Ruwatan Code sepanjang 500 meter ini mampu memgumpulkan ragam sampah. Dari beragam sampah yang terkumpul didominasi oleh industri rumah tangga. Menurut Pedro ini bukti bahwa untuk menjaga kebersihan sungai perlu kesadaran masyarakat.

Kesadaran ini diawali masyarakat bantaran sungai. Sebagai orang yang terdekat dengan sungai sehingga wajib menjaga kebersihan. Apalagi saat ini bantaran Kali Code sudah dipenuhi pemukiman warga.

“Kita harus ingat bahwa sungai itu sumber kehidupan manusia. Dengan menjaga lingkungan tetap sehat maka akan menjadi pemicu ke depannya. Diawali dari diri sendiri terutama warga bantaran Code,” kata Pedro.

Beragam aksi mewarnai ruwatan. Seperti menabur nasi tumpeng dan melepas benih ikan Nila di aliran sungai. Tumpeng sebagai perlambang kesejahteraan dan kesuburan sedangkan ikan untuk menjaga ekosistem.

Selain warga Jogjakarta, Ruwatan Code juga melibatkan komunitas. Di antaranya Keluarga Mahasiswa Waraopen Papua, dan Sumba NTT. Adapula Sanggar Anak Kampung Indonesia (SAKI), Taranesia, Yuyu Kangkang, WALHI, Mural Street Art dan Ring of Performance.

“Ini juga bukti untuk menjaga kelestarian alam tak memandang perbedaan suku dan ras. Menjaga kelestarian alam sudah menjadi tanggungjawab kita umat manusia,” katanya. (dwi/iwa/ong)

Jogja Raya