JOGJA – Menjamurnya becak motor (betor) di wilayah Jogjakarta kembali mendapat sorotan. Ada beberapa kelompok yang keberatan dengan keberadaan bettor ini. Di antaranya pejalan kaki, pengemudi sepeda motor dan mobil, penarik becak tradisional, dan andong.

Faktor keamanan menjadi salah satu alasannya. Alasan lain, masalah polusi yang ditimbulkannya. “Kalau nanti rem betor mendadak blong kemudian menabrak pengguna jalan lain bagaimana. Keamananan betor kan belum diuji dan jelas melanggar penggunaan kendaraan karena sudah diubah,” kata seorang penarik becak yang mangkal di Jalan Malioboro kemarin.

Direktur Lantas Polda DIJ Kombes Pol MH Ritonga menegaskan kepolisian melarang betor beroperasi di jalan raya. Larangan itu merujuk Pasal 48 UU No 22/ 2009 tentang Persyaratan Teknis dan Layak Jalan Kendaraan Bermotor dan Pasal 52 UU No 22/ 2009 tentang Modifikasi Kendaraan bermotor.

Atas pelanggaran tersebut, para pemilik betor dapat dikenai saksi tilang/kurungan sesuai aturan yang berlaku. “Kendaraan bermotor tidak boleh dimodifikasi atau diubah dari bentuk aslinya,” tegasnya.

Pemilik boleh memodifikasi kendaraan asal kendaraan tersebut tidak untuk digunakan di jalan raya. Tetapi khusus untuk ikut kontes/lomba saja. (mar/din/ong)

Aman di Jalan