JOGJA – Mahasiswa kadang memilih semester akhir untuk unjuk karya dalam sebuah pameran. Sayangnya ini tidak berlaku bagi seorang Mohammad Agung Nasrullah, mahasiswa semester tiga ISI Jogjakarta. Dirinya hadir dengan pameran bertajuk Menjelma Bertahan di Jogja Gallery.

Pameran ini juga menjadi tonggak baginya untuk serius dalam dunia seni rupa khususnya lukis. Dalam kesempatan ini dirinya menghadirkan 23 karya lukis. Seluruh karya ini merupakan karya terbaru yang dibuat tahun 2016.

“Menerapkan ilmu kuliah yang didapat selama tiga semester ini. Ilmu yang didapat dipraktekan ke dalam karya seni lukis. Tekniknya menggabungkan beberapa teknik melukis,” katanya, kemarin.

Pameran ini juga sebagai penanda kehidupannya yang baru. Mahasiswa kelahiran Jambi ini memilih untuk berganti nama menjadi Rupa Bule Larasati. Alasannya dirinya ingin hadir dengan identitas baru sebagai seorang seniman seni rupa.

Karya-karya yang diusung, bernafaskan eksperimental. Mulai dari menggabungkan beberapa teknik hingga bahan baku karya.

“Kalau dari kurator menganggap gaya yang saya usung adalah abstrak ekspresionis. Tapi saya lebih senang menyebutnya eksperimental bahan. Ada teknik lipat kain, lalu teknik spray hingga kolaborasi antara teknik nyata dan teknik semu,” ungkapnya.

Kurator Martinus Dwi Maryanto beranggapan bahwa Bule adalah mahasiswa yang nekad. Karena dia yang masih terhitung baru berstatus mahasiswa, namun dirinya berani menggelar pameran tunggal. Dia meminta seorang mahasiswa seni rupa jangan terlena dengan tembok kampus. Karena dengan pameran diluar kampus akan mengasah jiwa seni.

“Kalau mahasiswa mengadakan pameran di luar berarti siap untuk digebukin. Artinya siap menerima kritik yang pedas dan tajam. Ini justru bagus untuk membangun identitas, karakter dan mental dalam berkarya,” pungkasnya. (dwi/dem/ong)

Jogja Raya