JOGJA – Kondisi bus Transjogja yang banyak mengalami kerusakan saat beroperasi diakui Pemprov DIJ. Bus yang beroperasi saat ini merupakan kendaraan lawas, sehingga butuh biaya perawatan tinggi. Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ, Sigit Haryanta 34 bus Transjogja yang beroperasi saat ini sudah tidak layak dan harus diganti baru.

“Bus lama yang 34 buah itu secara biaya memang sudah tidak ekonomis. Memang sudah waktunya diganti baru,” katanya kemarin (2/3).

Menurutnya, setiap armada Transjogja mendapatkan jatah biaya operasional kendaraan (BOK), yang menjadi biaya perawatan dan pemeliharaan, berkisar antara Rp 6 ribu – Rp7 ribu per kilometer. Bila dihitung dengan rerata jarak tempuh perhari, setiap bus mendapatkan jatah BOK sekitar Rp1,8 Juta per hari.

“BOK sebesar itu tetap tak bisa membohoni umur kendaraan yang sudah lewat masa pakainya,” jelas Sigit.

Kepala UPT Transjogja Dishub DIJ Agus Minang Satyo Nugroho menjelaskan 34 bus yang mereka miliki saat ini sudah mulai beroperasi sejak 2008. Padahal dalam sehari satu unit bus setidaknya bisa berjalan sejauh 267 Km. Dengan jarak tempuh tersebut, usia pakai bus Transjogja untuk transportasi umum diproyeksikan hanya selama lima tahun.

“Lebih dari itu beban perawatan tak lagi ekonomis dan kondisi mesin sudah tak mumpuni,” tuturnya

Efek yang paling terlihat, jelas Agus, adalah asap hitam yang dikeluarkan bus. Karena seharusnya bus sudah diganti pada tahun 2013 lalu, saat mereka mendapatkan tambahan 20 armada. Nnamun saat itu Transjogja masih kekurangan armada. Sehingga meskipun ada bus baru yang beroperasi sejak 2013 dan tambahan 20 bus lagi pada 2014, 34 bus generasi pertama tetap dipaksa beroperasi.

“Tapi kalau yang 34 itu enggak dipakai busnya akan kurang, kasihan warga yang membutuhkan Transjogja,” ungkapnya.

Menurut Sigit, untuk pergantian bus belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Meski Pemprov DIJ sudah memperoleh lampu hijau dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) untuk mendapatkan 25 bus sebagai pengganti bus Transjogja saat ini. Tapi armadanya belum diambil.

“Masih di karoseri Magelang. Kemenhub sebenarnya sudah menyurati kepolisian, tapi karena belum ada jawaban bisa diplat kuning, bus belum kami ambil,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD DIJ Arif Budiono menuntut Pemprov DIJ untuk segera meremajakan Transjogja yang sudah terlampau usang. Bila memang pengadaan bus bantuan lama, Pemda mestinya tak pelit untuk menggelontorkan uang untuk pengadaan bus baru. PT AMI sebagai pengelola Trans Jogja yang baru pun diminta aktif dan profesional dalam mengelola angkutan andalan masayrakat DIJ ini.

“Kan tidak harus dari APBD, bisa juga pinjam atau kerjasama dengan pihak ketiga. PT AMI juga mestinya punya modal untuk peremajaan armada, tandasnya. (pra/dem/ong)

Jogja Raya