Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral Tugu Jogja Ambruk! Begini reaksi SRI SULTAN HB X FAMILY

Jihad Rokhadi • Senin, 1 Desember 2025 | 02:49 WIB

tugu jogja ambruk (tiktok @ksmconfidential)
tugu jogja ambruk (tiktok @ksmconfidential)

 

Yogyakarta–Kota yang dikenal dengan kehangatan budayanya, kini merasakan getaran amarah digital. Sebuah unggahan di media sosial TikTok yang secara manipulatif menggambarkan Tugu Jogja—simbol kebanggaan, sejarah, dan jantung Sumbu Filosofis Yogyakarta—seolah-olah ambruk, telah memicu badai emosi dan perdebatan sengit di jagat maya. Insiden ini bukan sekadar konten viral TikTok biasa, melainkan sebuah ujian terhadap sensitivitas dan etika digital dalam menghormati warisan yang disakralkan.

Ketika Manipulasi Merenggut Kesakralan Tugu

Bayangkan jika Anda melihat sebuah kabar yang merobek hati: bahwa sebuah monumen yang menjadi penanda sejarah, yang menjadi saksi bisu setiap senja dan fajar di kota Anda, tiba-tiba runtuh. Itulah emosi yang dimainkan oleh konten viral tersebut.

Dalam tangkapan layar yang beredar luas, terlihat siluet agung Tugu Jogja yang seharusnya berdiri kokoh, kini ditampilkan dalam keadaan hancur lebur—hasil dari sebuah foto editan yang menyesatkan. Ditambah dengan narasi dalam Bahasa Jawa yang terkesan meremehkan, “salahe takon kok ragenah” (salahnya bertanya kok tidak jelas), serta tagar sensasional seperti #tugujogjaambruk, unggahan ini sengaja dirancang untuk memancing perhatian maksimal.

Namun, alih-alih meraup engagement yang positif, konten ini justru menyinggung akar terdalam dari identitas masyarakat Yogyakarta.

Amarah Warganet: Membela Kehormatan Sumbu Filosofis

Reaksi yang muncul bukanlah sekadar kritik ringan, melainkan teguran keras yang membawa bobot nilai sejarah dan filosofi. Bagi warga Yogyakarta, Tugu Jogja bukanlah sekadar bangunan batu. Ia adalah titik penting dalam Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu itu sendiri. Sumbu ini adalah warisan budaya yang diakui secara internasional dan sarat dengan makna spiritual serta historis.

Kolom komentar memanas. Di tengah hiruk pikuk digital, muncul suara-suara yang tegas membela kesakralan monumen tersebut. Salah satu komentar yang paling menonjol, datang dari akun yang membawa identitas kehormatan “SRI SULTAN HB X FAMILY”, memberikan teguran yang menohok namun bijaksana:

“nyuwunsewu nggih mas, lain kali kalau mau buat konten difikir-fikir dulu yaa, ini Tugu Jogja loh, ikoniknya Yogyakarta, Sumbu Filosofi juga, yang mana sudah diakui sangat bersejarah dan sakral. Sampeyan wong Jogja kan? Jadi pasti sudah tau asal usul tugu ini. Yo rapopo nek buat konten-konten, tapi kalau buat tempat bersejarah kayak gini jangan dibuat bahan bercandaan…”

Komentar ini merangkum esensi perdebatan: pencarian popularitas atau viralitas di media sosial tidak boleh mengorbankan etika, apalagi merendahkan simbol yang memiliki nilai sakral dan sejarah yang dihormati secara turun-temurun. Konten yang bertujuan viral dengan menyebarkan hoaks atau candaan sensitif mengenai warisan budaya, pada akhirnya, hanya akan menuai kecaman.

Membangun Etika Digital yang Beradab

Insiden Konten Viral TikTok yang menghebohkan ini menjadi peringatan keras bagi kita semua, terutama para kreator konten muda, mengenai pentingnya etika digital.

Media sosial adalah ruang publik yang kuat, namun kekuatan tersebut harus digunakan dengan tanggung jawab. Menggunakan simbol kota, budaya, atau sejarah yang dianggap sakral sebagai alat untuk mencapai viralitas adalah tindakan yang ceroboh dan melanggar batas sensitivitas lokal.

Yogyakarta, dengan segala keluhuran budayanya, mengajarkan kita bahwa sejarah dan filosofi bukanlah bahan candaan yang bisa diutak-atik demi klik.

Masyarakat menuntut bijak dalam membuat dan menyebarkan konten. Mari kita jaga bersama kehormatan Tugu Jogja dan Sumbu Filosofis Yogyakarta. Konten yang berkualitas harusnya mengedukasi, menginspirasi, dan menghargai, bukan merusak atau memicu kontroversi emosional. Kegagalan untuk memahami ini hanya akan membuat kita terus menerus mengorbankan nilai-nilai luhur demi sesaatnya popularitas digital.

Editor : Jihad Rokhadi
#Tugu #tugu jogja #TikTok #Sumbu Filosofis