Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Doksik AKBP dr D. Aji Kadarmo Sp.FM, DFM , sejak 2004, Sudah Menangani Lebih dari 500 Jenazah

Khairul Ma'arif • Jumat, 6 Oktober 2023 | 14:05 WIB
PROFESI LANGKA: AKBP dr D. Aji Kadarmo Sp.FM, DFM saat ditemui kantornya, RS Sakit Bhayangkara Polda DIJ, Kamis (5/10).Khairul Ma
PROFESI LANGKA: AKBP dr D. Aji Kadarmo Sp.FM, DFM saat ditemui kantornya, RS Sakit Bhayangkara Polda DIJ, Kamis (5/10).Khairul Ma

 

RADAR JOGJA - Ada stigma selama ini bahwa profesi dokter forensik (doksik) selalu berurusan dengan mayat korban pembunuhan. Ada tugas lain yang tidak mesti berhubungan dengan jenazah, seperti kata Kepala Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIJ AKBP dr D. Aji Kadarmo Sp.FM, DFM.

KHAIRUL MA'ARIF, Sleman

Dokter Aji mengakui jika selama bertugas memang kebanyakan menangani perihal jenazah. Dari awal terjun di dunia kedokteran forensik sejak 2004, setidaknya ia sudah menangani lebih dari 500-an jenazah.


Tetapi, ada juga tugas yang berhadapan tidak dengan mayat. Menurutnya, ia bertugas membantu operasional kepolisian untuk berbagai satuan.
"Instalasi kami sekarang namanya BFMC, kepanjangan dari Bhayangkara Forensic Medicine Centre. Kami melakukan pelayanan untuk kasus korban meninggal, juga korban hidup," ungkapnya Kamis (5/10).


Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini menyadari banyak yang menyalahartikan jika doksik hanya menangani jenazah saja. Pria yang pernah berdinas di Mabes Polri ini membeberkan, penanganan kasus untuk korban hidup biasanya seperti dugaan KDRT, dugaan penganiayaan anak, dugaan pemerkosaan ataupun pencabulan.


Sekaligus, juga ada pelayanan laboratorium forensik seperti pemeriksaan darah yang sifatnya sederhana dan pengecekan DNA. Menurutnya, khusus untuk DNA bisa untuk pro justisia ataupun non justisia. Pro justisia seperti penemuan bayi yang dicek DNA untuk diketahui sosok orangtuanya.


Di BFMC juga bisa dicek DNA, untuk mengetahui potensi penyakit yang dialami seorang individu. Aji mengungkapkan, mayoritas tugasnya selama ini adalah dalam hal pro justisia dari permintaan penyidik kepolisian. Proses itu dimulai dari TKP pertama sebuah peristiwa kriminal.
Doksik memiliki peran penting dalam pengungkapan kasus yang sedang diselidiki polisi. Khususnya perkara yang berkaitan dengan barang bukti manusia sebagai objeknya.


Selain itu, doksik juga dapat bersaksi di pengadilan sebagai saksi ahli. Pendapat atau keterangannya bisa diminta oleh jaksa penuntut umum (JPU) ataupun dari penasihat hukum (PH) terdakwa yang berperkara. "Tetapi ini ada aturannya ya. Jadi jika sudah bersaksi ahli di JPU, tidak bisa bersaksi untuk PH," tutur Aji.


Doksik juga bekerja untuk membuat visum et repertum berbagai kasus yang dialami oleh para korbannya yang masih hidup. Pria yang pernah berdinas di Polda Jawa Barat ini mengaku, modus operandi kejahatan pelaku semakin berkembang. Hal itu menjadi tantangan bagi setiap doksik.
Aji mengatakan, sering menangani trauma mekanik yang biasanya berkaitan dengan kekerasan dilakukan dengan benda tumpul ataupun senjata tajam (sajam). Menurutnya, sebagai seorang dokfsik, tugas yang paling berkesan adalah ketika suatu kasus dapat terungkap hingga berakhir dengan inkrah atau berkekuatan hukum tetap.
"Karena peran kami dari TKP hingga jadi saksi ahli. Jadi itu bikin berkesan dan senang karena merasa keilmuan kami berguna," ungkap pria yang sedang menyelesaikan S3 ini.


Dalam forensik itu, semakin cepat dilakukan pemeriksaan hasilnya semakin bagus dan hasil lengkap. Tetapi sebaliknya jika lama datanya, semakin minimal sehingga terbatas juga bukti-buktinya.


Menurut Aji, jenazah yang ditemukan sudah membusuk atau tidak lengkap anggota tubuhnya alias termutilasi, menjadi tantangan untuk profesi doksik. Tetapi akan berdampak pada hasil yang tidak maksimal meski sudah diusahakan sepenuhnya.


Menjadi seorang dokter forensik merupakan pilihan dari semasa masih berkuliah. Hal itu karena ketertarikannya terhadap ilmu forensik membuatnya memilih terjun ke dunia ini.


Selain itu, dia memilihnya juga karena masih banyak orang yang belum tertarik fokus ke forensik. Alasan kedua, karena Aji ingin bisa membantu orang dengan cara yang berbeda. "Yaitu menolong keluarga korban atau si korban sendiri untuk memperoleh keadilan," ungkapnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Sleman #Polda DIJ #rumah sakit bhayangkara #Instalasi Kedokteran Forensik