RADAR JOGJA - Berbicara kuliner, memang seperti tidak ada habisnya. Hampir setiap daerah memiliki kekayaan berupa kuliner. Dengan segala jenis, bentuk, nama hingga cita rasa berbeda satu dengan yang lain. Seperti di Kebumen, ada salah satu kuliner yang memiliki nama cukup nyeleneh. Yakni, jenang sabun. Sebuah panganan khas pesisir selatan Kebumen berbahan dasar nira kelapa dan tepung beras.
Sekilas, Jenang Sabun memang terdengar aneh. Alam pikiran kita langsung fokus pada penyematan nama sabun, yang berarti peralatan mandi. Namun sangkaan itu ternyata salah. Baik bentuk maupun aroma tidak seperti yang dibayangkan layaknya sabun mandi.
Penamaan aneh inilah yang terkadang membuat penasaran bagi para penikmat kuliner. "Kebanyakan yang pesan itu penasaran. Padahal dari dulu namanya ya jenang sabun. Dari saya kecil tidak berubah," kata penjual jenang sabun Welas Asih Jumat (21/7/23).
Meski cukup aneh. Namun siapa sangka jenang ini sungguh begitu candu. Dari segi tekstur, kelembutan hingga rasa autentik. Kudapan lezat ini sangat cocok jika dinikmati dengan secangkir kopi atau teh.
Bagi penikmat kuliner alergi manis, jangan khawatir. Karena jenang ini rasa manisnya pas dan alami karena dihasilkan dari tepung beras dan nira kelapa. "Tanpa kimia, semua pakai bahan alam. Kebetulan suami saya penderes sajeng (nira). Jadi cari bahan gampang," jelas Welas.
Welas menyebut, dalam proses pembuatan jenang sabun ini tanpa mengandalkan bahan maupun peralatan modern. Hanya saja butuh ketelatenan setiap kali memproduksi.
Diawali dari proses membuat bahan adonan. Setelah itu masuk tahap manaruh adonan di atas daun pisang tipis-tipis secara merata. Secara kasat mata, adonan di atas daun pisang ini mirip kulit lumpia. Namun jauh lebih tipis.
Baru kemudian dijemur di bawah terik matahari. Proses pengeringan ini memakan waktu paling tidak dua hari agar mendapatkan hasil maksimal. "Misal sudah kering digulung ukuran sekitar lima centimeter. Tinggal dijemur lagi sebelum siap konsumsi," ungkapnya.
Dalam sehari, dia mampu memproduksi rata-rata tiga kilogram bahan baku jenang. "Sekitar 200 biji sekali produksi. Satu kotak itu isi 17 saya jual Rp 10 ribu. Pakai online gitu, bilang yang pesan karena aneh," bebernya.
Welas setiap hari memproduksi jenang sabun di rumahnya. Tepatnya di Desa Munggu, Kecamatan Petanahan. Usaha ini telah dijalani sejak 2002 silam, selepas ibunya wafat. Setiap produksi, dia dibantu suami dan cucunya. "Kalau dibilang dari leluhur saya dulu sudah buat jenang. Saya tinggal nerusin aja," sambung wanita 54 tahun itu.
Welas mengatakan, jenang sabun merupakan kuliner khas pesisir selatan. Namun, keberadaan jenang ini mulai sulit dicari. Bahkan, di sekitar tempat tinggalnya, hanya dia yang masih tetap bertahan. "Kalau dulu banyak. Sekarang cuma saya. Banyak yang tidak telaten. Itu kan seperti ngurusi bayi, repot banget. Apalagi kalau musim mendung. Baru dijemur sudah kena grimis," tuturnya. (fid/eno)