Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sesar Opak Paling Aktif Menggoyang DIJ

Khairul Ma'arif • Senin, 10 Juli 2023 | 13:30 WIB

 

Gempa bermagnitudo 6,4 yang menggoncang Bantul dan terasa hingga Jawa Timur dan Jawa Barat Jumat malam (30/6/23).
Gempa bermagnitudo 6,4 yang menggoncang Bantul dan terasa hingga Jawa Timur dan Jawa Barat Jumat malam (30/6/23).

RADAR JOGJA - Gempa bermagnitudo 6,4 yang menggoncang Bantul dan terasa hingga Jawa Timur dan Jawa Barat Jumat malam (30/6/23) lalu, sempat membuat masyarakat panik. Wajar, warga di DIJ masih trauma gempa dahsyat 27 Mei 2006 yang mengakibatkan sekitar 5.000 orang meninggal dunia. Wilayah DIJ sendiri berada di atas sesar-sesar aktif yang mengharuskan kita selalu meningkatkan kewaspadaan, khususya dalam hal mitigasi bencana.

Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ mengingatkan dampak gempa bumi yang sangat besar dan menyeluruh. Bencana alam bumi bergoyang itu dapat meluluhlantakkan suatu daerah jika pusat gempanya berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat.


Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman BMKG DIJ Setyoajie Prayoedhi sudah mencatat beberapa sesar aktif. Di antaranya Sesar Oyo, Sesar Opak dan ada beberapa sesar lain yang diindikasikan aktif. Namun belum dipelajari secara baik, seperti Sesar Dengkeng, Sesar Oya, dan Sesar Progo.


Dari sekian banyak sesar itu, yang paling aktif adalah Sesar Opak. Namun sumber-sumber kegempaan di DIJ bukan hanya sesar aktif yang berada di darat. Ada juga sumber kegempaan lainnya yang berada di zona subduksi di selatan Jawa yang terdapat Lempeng Indo Australia yang masuk menyusup ke Lempeng Eurasia.


"Nah, aktivitas subduksi di sana dapat memicu terjadinya gempa. Ada empat yang teridentifikasi cukup aktif, seperti selatan Gunungkidul, selatan Pacitan, selatan Cilacap, dan kawasan Sesar Opak," katanya kepada Radar Jogja kemarin (10/7).


Pria yang biasa disapa Setyo ini menjelaskan, di Pulau Jawa sendiri ada 31 sesar aktif yang dapat mengguncang kapan saja. Gempa tektonik memiliki cakupan yang luas, tidak terbatas pada wilayah administratif saja. Oleh karena itu, Stasiun Geofisika BMKG DIJ melakukan setiap analisa sesar atau pemicu gempa seluruhnya tidak terbatas di Jogja saja.


Itulah bedanya jenis gempa bumi tektonik dengan gempa bumi vulkanik yang hanya berdampak di wilayah sekitar gunung meletus saja. Setyo menyampaikan, gempa bumi belum lama terjadi yang berpusat di Bantul itu merupakan jenis gempa tektonik yang dampaknya bahkan sampai ke luar DIJ seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.


Dia menyadari gempa bumi tektonik sangat sulit diprediksi kapan terjadinya. Hal itu karena sampai sekarang belum ada metode atau alat canggih yang dapat memprediksi kapan dan di mana gempa bumi tektonik sebelum terjadi. Berbeda dengan gempa bumi vulkanik yang bisa diprediksi melalui aktivitas magmatik dari gunung berapi.


Setyo mengingatkan, setiap wilayah sangat mungkin mengalami gempa bumi yang dahsyat di kemudian hari. Wilayah yang tidak pernah terjadi gempa bumi pun, malah bisa sangat membahayakan jika suatu hari terjadi.
"Wilayah yang tidak pernah terjadi gempa itu sangat berbahaya karena bisa jadi ada akumulasi energi di sana. Khawatirnya jika dikeluarkan secara tiba-tiba sekaligus, langsung besar," ucapnya. Dia malah lebih berharap terjadi gempa dengan energi yang kecil hingga tidak dirasakan masyarakat luas. Hal itu lebih menenteramkan dari bencana gempa bumi.


Meski begitu, ada hal yang paling penting menurut Setyo, walaupun kekhawatiran gempa bumi selalu mengintai. Menurutnya, setiap masyarakat harus memahami konsep evakuasi mandiri sejak dini. Dari sana akan diperoleh cara menyelematkan diri ketika sebelum, sesaat, dan sesudah terjadinya gempa.


Setyo menyampaikan sebelum gempa, setiap anggota masyarakat harus dapat membekali dirinya pengetahuan mitigasi gempa bumi. Termasuk juga mengidentifikasi wilayah di sekitarnya sampai tingkat terkecil.
"Misalnya di rumah sendiri, jika ada gempa harus mengetahui keluarnya lewat mana. Terus paling tidak harus bertahan tiga hari mandiri tanpa menerima bantuan," ungkapnya.


Untuk mempersiapkannya diperlukan tas siaga bencana yang berisi surat-surat berharga, bahan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan minuman. Tempat tinggal yang disinggahi juga harus dianalisa agar tidak mudah roboh jika terjadi gempa bumi. Selain itu, jalur evakuasi juga harus diketahui setiap masyarakat jika terjadi gempa. (cr3/laz)

Editor : Satria Pradika
#gempa #2006 #DIJ #Bantul #sesar opak #BMKG