Tak hanya dimanfaatkan untuk berbincang atau bersantai sambil membaca buku. Selain itu juga digunakan untuk event yang berhubungan dengan buku atau komunitas literasi.
Salah satu pengunjung kafe dengan konsep tersebut adalah Sofia Nuring Tyas. Dia mengaku sudah cukup lama mengunjungi kafe dengan konsep yang dipadukan tempat membaca. Tyas sendiri cukup sering berkunjung ke kafe tersebut. Bisa tiga hingga empat kali dalam seminggu. “Biasanya mengerjakan tugas di kafe yang kebetulan ada kolaborasi dengan tempat buku. Di situ bisa menambah referensi juga kalau lagi nugas,” katanya kepada Radar Jogja Jumat (16/6/23).
Tyas juga pernah mengunjungi perpustakaan konvensional untuk mengerjakan tugas. Namun dia lebih sering memilih ke kafe lantaran dekat dengan rumahnya. “Menurut saya tempatnya sangat nyaman karena digabung sama coffee shop juga. Jadinya lebih sering ke sini,” lanjutnya.
Mahasiswi manajemen UAD ini mengatakan, dirinya bisa bisa menambah referensi ketika mengerjakan tugas. Dengan langsung mengunjungi stand tempat buku yang ada di kafe tersebut. Tak hanya mencari referensi melalui internet. “Apalagi di sini ada shopkeeper-nya juga dan ada owner-nya. Jadi bisa tanya langsung kalau ada kebingungan,” ujarnya.
Sementara itu, pengunjung lain Risma Mela mengaku baru pertama kali mengunjungi kafe yang berkonsep dengan tempat bacaan. Sebelumnya dia hanya ke perpustakaan umum. Menurutnya, kafe dengan konsep tersebut cukup nyaman dan bersih. Hanya saja, koleksi atau genre buku yang disediakan tidak terlalu lengkap. Selain itu, justru lebih banyak buku yang dijual. “Padahal saya di sini belum tentu beli. Kadang mengerjakan tugas sambil baca atau refreshing sambil baca,” ungkapnya.
Menurut Risma, kafe dengan konsep yang berkolaborasi dengan tempat literasi cukup bagus. Karena menambah ruang-ruang baru untuk membaca dan mengerjakan tugas. Selain bisa mencari referensi yang lebih banyak, pengunjung juga bisa refreshing. “Kesannya beda, kalau di perpustakaan umum mungkin tegang, kalau di kafe bisa lebih santai,” ucap mahasiswi STAIT Jogja ini.
Joana Zettira sebagai penggiat literasi mengaku, pergi ke cafe atau warung kopi (warkop) bukan hanya untuk ngopi. Melainkan juga untuk mengerjakan tugas, hingga me-refresh diri. Keberadaan pojok baca bisa menjadi opsi menarik baginya. “Apalagi kalau buku-bukunya buku yang seksi. Buku yang hari ini banget,’’ ujar Joana yang pernah terpilih menjadi peserta terbaik dalam gelaran Residensi Penggiat Literasi di Lampung Selatan.
Kalau di Jogja, Joana biasanya ke Warung Sastra, Kafe Main Main, dan Basa Basi. Baginya, ngopi di warkop yang ada pojok bacanya ini sakti. Karena memperluas kemungkinan bertemu dengan para penulisnya. “Karena biasanya beliau-beliau kerap ngumpul di sana. Ngopi atau diskusi,’’ tandas Joana yang pernah menyabet juara 3 Duta Bahasa DIJ ini. (tyo/din/eno)