MAGELANG - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Magelang selama tiga tahun terakhir menunjukkan tren yang berbeda. Data Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMP4KB) Kota Magelang pada 2023 menangani 53 kasus. Pada 2024 ada 34 kasus dan 2025 ada 47 kasus.
“Ini adalah catatan kasus yang kita tangani, bukan catatan kasus yang ada di Kota Magelang," kata Kepala DP4MP4KB Kota Magelang Wawan Setiadi Kamis (26/2).
Hal itu mendorong pemkot memperkuat pendekatan berbasis komunitas. Satu di antaranya melalui pembentukan relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA), yang dapat menjadi 'mata dan telinga' di tingkat lingkungan untuk mendeteksi dini kasus yang kerap tersembunyi.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DPMP4KB Kota Magelang Amalia Ila Diastri menyebut, dua faktor utama yang paling dominan. Yakni kemiskinan dan rendahnya pendidikan.
"Banyak anak-anak putus sekolah, bahkan ada yang tidak sekolah karena harus bekerja. Di situ menyebabkan kekerasan dengan anak, baik korban maupun pelaku," jelasnya.
Jenis kasus yang ditangani pun beragam, mulai dari penelantaran anak, konflik pengasuhan, hingga anak berhadapan dengan hukum. Bahkan, perilaku berisiko pada anak seperti penyalahgunaan NAPZA, pergaulan bebas, hingga kecanduan seksual tercatat cukup signifikan.
Selain itu, kekerasan seksual berbasis digital juga mulai menjadi perhatian, meski angkanya relatif stabil setiap tahun.
Dias mengatakan, satu tantangan terbesar dalam penanganan kasus adalah masih kuatnya stigma di masyarakat yang membuat korban enggan melapor. "Bisa jadi ketakutan, bisa jadi labelling," paparnya.
Kondisi ini memperkuat fenomena 'gunung es', yang mana kasus yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari yang sebenarnya terjadi. Banyak kasus tersembunyi karena minimnya keberanian melapor dan rendahnya kepedulian lingkungan sekitar.
Dalam konteks itulah, lanjut Dias, pembentukan Relawan SAPA menjadi strategi penting. Program ini tidak hanya bertujuan memperluas jangkauan deteksi kasus, tetapi juga membangun kesadaran kolektif di masyarakat. "Tujuannya agar masyarakat aware. Negara itu menangani, jika Anda lapor," bebernya.
Relawan SAPA akan ditempatkan di setiap kelurahan, dengan tugas utama mengamati lingkungan dan melaporkan aktivitas mencurigakan. "Tugasnya sebenarnya tidak berat, hanya mengawasi lingkungan. Kalau ada yang mencurigakan itu dilaporkan," terangnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo