MAGELANG - Pemkot berencana menambah lima armada angkutan kota (angkot) dalam program Jempol atau Jemput Pelajar Kota Magelang dalam waktu dekat. Penambahan ini tidak diarahkan untuk membuka rute baru, melainkan memperkuat jalur-jalur yang selama ini tercatat padat penumpang.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang Makhmud Yunus mengatakan, saat ini program Jempol baru mengoperasikan 26 armada. Jumlah itu sempat berkurang setelah satu unit harus pensiun karena usia kendaraan.
Semula, target penambahan adalah 15 armada. "Tapi yang realistis dalam waktu dekat ini baru lima. Itu pun akan kita fokuskan ke jalur yang padat," ujarnya, Kamis (26/2).
Penambahan armada ini, lanjut dia, didasarkan pada hasil evaluasi lapangan selama lebih dari tiga bulan pelaksanaan program. Beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Pahlawan disebut menjadi jalur dengan tingkat keterisian tinggi.
Sebaliknya, wilayah yang minim sekolah justru sepi peminat. "Tapi ada juga yang sepi, terutama di wilayah utara yang sekolahnya jarang," kata Yunus.
Kendati demikian, dishub juga menghadapi kritik dari masyarakat terkait skema pembayaran armada yang menggunakan sistem borongan per rute, bukan berdasarkan jumlah penumpang.
Akibatnya, angkot tetap dibayar penuh meski hanya mengangkut sedikit pelajar. "Ada kritik, 'yang naik sedikit kok tetap dibayar'. Tapi memang sistem kita borongan per rute," jelas Yunus.
Dia mengakui, skema ideal sebenarnya berbasis jumlah penumpang menggunakan sistem digital seperti kartu atau tap elektronik. Namun, implementasi itu masih terkendala kesiapan anggaran dan infrastruktur.
Selain soal rute, persoalan jam operasional juga menjadi perhatian. Selama ini, jadwal angkot disesuaikan dengan jam masuk dan pulang sekolah. Namun di lapangan, masih ada siswa yang tertinggal karena waktu yang terlalu mepet.
Dishub mencoba mencari titik tengah antara efisiensi layanan dan kebutuhan pelajar. Di sisi lain, jika jam diperpanjang, muncul risiko pemborosan karena jumlah penumpang semakin sedikit di luar jam utama.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono memastikan, program angkot gratis ini akan terus dievaluasi, termasuk kemungkinan perubahan skema layanan. Satu opsi yang muncul adalah memperluas layanan gratis berbasis identitas pelajar, bukan lagi berbasis jam operasional.
"Apakah nanti yang berseragam bisa gratis 24 jam, atau tetap dibatasi waktu, ini sedang kita evaluasi. Karena ada juga keluhan setelah jam tertentu masih harus bayar," terangnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo