Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Target Produksi 25 Liter Susu per Hari, Pemkab Magelang Kembangkan Ekosistem Sapi Perah di Dataran Tinggi

Naila Nihayah • Kamis, 26 Februari 2026 | 23:45 WIB

Peternak memerah susu sapi di Sleman
Peternak memerah susu sapi di Sleman

 

Kabupaten Magelang menyimpan potensi besar dalam pengembangan susu sapi perah, terutama di kawasan dataran tinggi. Pemkab mulai memetakan wilayah-wilayah potensial untuk mendorong sektor peternakan berbasis klaster, dengan sapi perah sebagai komoditas unggulan di kawasan pegunungan.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut, karakter geografis wilayahnya menjadi dasar utama dalam menentukan arah pengembangan peternakan. Dari total wilayah yang ada, setidaknya delapan kecamatan berada di ketinggian yang dinilai ideal untuk budi daya sapi perah.

"Maka kita dorong sesuai potensinya. Kalau di peternakan yang paling cocok ya sapi perah," ujarnya di kompleks Setda Kabupaten Magelang, Kamis (26/2).

Baca Juga: Prediksi Crvena Zvezda vs Lille Europa League Jumat 27 Februari Kick Off 00.45 WIB, Mampukah Calvin Verdonk Cs Bangkit?

Pendekatan yang digunakan, kata dia, tidak sekadar berbasis program, melainkan pemetaan potensi wilayah secara menyeluruh. Pemerintah membagi pengembangan sektor peternakan dan perikanan dalam beberapa klaster, menyesuaikan kondisi alam masing-masing kawasan.

"Kalau misalnya di bawah (dataran rendah) itu potensinya perikanan, di (dataran) atas potensinya bisa sapi perah, nanti tengahnya bisa unggas," kata Grengseng.

Dia mengatakan, pembagian ini bukan tanpa dasar, melainkan melalui pertimbangan geografis dan kajian akademik. Wilayah dataran rendah dengan akses aliran air lebih cocok untuk perikanan air tawar, sementara dataran tinggi memiliki iklim yang mendukung produktivitas sapi perah.

Baca Juga: Punch, Monyet Jepang yang Diabaikan Ibu, Jadi Viral dan Menjadi Sorotan Soal Perilaku Hewan dan Kesejahteraan

"Kalau perikanan cocoknya musti dari Salam sampai Secang. Itu di bawah, di aliran sungai. Yang di atas bisa pelihara sapi perah," jelasnya.

Sejumlah kecamatan yang berada di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) disebut menjadi titik potensial pengembangan sapi perah, seperti kawasan Ngablak, Pakis, hingga wilayah lereng Gunung Merapi dan Merbabu, termasuk Srumbung dan Kajoran.

Meski belum menetapkan target produksi secara spesifik, Grengseng menyebut, gambaran potensi produksi susu dari satu ekor sapi perah. Dalam kondisi ideal, produksi bisa mencapai 20 hingga 25 liter per hari, meski angka riil di lapangan masih berada di bawah potensi tersebut.

Baca Juga: Gegara Efisiensi, Jumlah Penerima Bantuan Pangan Non Tunai di Kulon Progo Dipangkas

Produksi tersebut, lanjutnya, berlangsung dalam siklus sekitar 10 bulan setelah sapi melahirkan, sebelum memasuki masa jeda dua bulan menjelang kelahiran berikutnya.

Selain faktor geografis, keberhasilan pengembangan sapi perah juga sangat bergantung pada manajemen pakan dan perawatan ternak. Pemkab berencana menyiapkan dukungan dari sisi ketersediaan hijauan hingga pakan konsentrat sebagai bagian dari ekosistem peternakan. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#Kajoran #Kabupaten Magelang #dataran tinggi #susu sapi #sapi #ngablak #Grengseng Pamuji