MUNGKID - Warga Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang mempunyai cara unik untuk 'membersihkan' diri menjelang Ramadan. Mereka mengemas ritual penyucian diri itu lewat Bajong Banyu atau tradisi perang air. Kegiatan ini menjadi satu sarana untuk merawat kerukunan antarwarga.
Siang itu, Lapangan Dusun Dawung mendadak riuh. Anak-anak hingga orang dewasa antusias saling melempar kantong plastik berisi air. Cipratan air membasahi pakaian, sementara tawa pecah di berbagai sudut. Mereka bersama-sama merawat tradisi yang diwariskan turun-temurun itu.
Koordinator kegiatan Tri Setyo Nugroho menjelaskan, Bajong Banyu lahir dari tradisi padusan atau ritual mandi suci menjelang Ramadan yang dulu dilakukan di Sungai Progo atau sungai sekitar Dusun Dawung. Kebiasaan masa kecil warga yang bermain air di sendang kemudian dikemas ulang oleh karang taruna menjadi festival budaya tahunan.
"Ini bukan sekadar permainan, tapi simbol penyucian diri. Kita ingin menyambut Ramadan tanpa iri, tanpa dendam," ujarnya Minggu (15/2).
Rangkaian kegiatan dimulai dari kirab pengambilan air di Sendang Kedawung. Sesepuh dan perangkat desa mengambil air menggunakan kendi dan klenting, lalu mengaraknya ke lapangan dusun diiringi oleh Tari Pawitra Citra. Prosesi ini menjadi pengingat bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Setibanya di lokasi, digelar umbul donga dan doa bersama sebagai wujud syukur dan permohonan keberkahan. Kemudian dilanjutkan dengan Tari Pawitra Citra dan prosesi sesuci. Sesepuh pun membasuh wajah warga sebagai simbol penyucian iri.
Sekretaris Desa Banjarnegoro Sarjoko menyebut, air yang digunakan diambil dari mata air yang dianggap suci. Makna air dalam tradisi ini bukan sekadar unsur fisik. Melainkan lambang pembersihan hati dari iri, dengki, dan dendam sebelum memasuki bulan puasa.
Lebih dari 100 kantong plastik berisi air serta sejumlah tong air disiapkan. Warga bebas saling melempar. Filosofinya sederhana, yakni rasa iri dan dendam diluruhkan lewat simbol lemparan air yang dibalas dengan tawa, bukan amarah.
"Orang yang dilempar biasanya bisa menyimpan rasa. Nah, dengan saling melempar, harapannya rasa itu hilang. Bersih semua," kata Sarjoko.
Selain itu, lanjut dia, Bajong Banyu juga menjadi strategi sosial. Inisiatif karang taruna ini dinilai efektif menggerakkan pemuda agar terlibat dalam kegiatan positif. Terlebih, Bajong Banyu resmi masuk kalender event budaya tahunan Kabupaten Magelang dan Provinsi Jawa Tengah.
Baca Juga: Sambut Ramadan, Bupati Klaten Luncurkan Single Religi Tuhan itu Ada.
Sarjoko menambahkan, setelah perang air, rangkaian kegiatan berlanjut pada malam hari dengan pentas seni tari dari desa dan dusun sekitar. Dia berharap, tradisi ini dapat terus dirawat supaya menciptakan daya tarik budaya yang bermakna menjelang Ramadan. (aya/laz)