PURWOREJO - Sepekan jelang puasa menjadi berkah tersendiri bagi para penjual bunga tabur di Jalan Urip Sumoharjo, Purworejo. Mereka mengaku mendapat untung berkali lipat dengan adanya tradisi ziarah sebelum ramadan tiba.
Salah satu penjual bunga tabur Devi Jejak Laraswati, 29, mengaku, tradisi nyekar atau ziarah ke makam leluhur menjadi momentum yang paling dinanti setiap tahun.
Dari tradisi ini omzet penjualan bunga otomatis naik, bahkan hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. "Sehari kemarin dapat bersih Rp 400 ribu," katanya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (13/2).
Ia mengungkapkan, banyaknya permintaan bunga tabur mulai dirasakan sejak sepekan terakhir. Diprediksi permintaan akan semakin meningkat hingga H-1 sebelum puasa. "Puncaknya bisa weekend besok. Orang pada libur, ramai ziarah ke makam," ujarnya.
Selain permintaan meningkat, harga bunga tabur yang dijual juga ikut merangkak naik. Jika biasanya satu keranjang bunga berukuran kecil dibanderol harga Rp 20 ribu, kini penjual menawarkan dengan harga Rp 35 ribu.
Pun sama untuk ukuran keranjang besar biasanya hanya dijual Rp 75 ribu, sekarang dijual dengan harga Rp 100 ribu. "Banyak yang cari, tapi stok barangnya sedikit banget," ujarnya.
Penjual lain Sri Ambarwati, 59, mengatakan, permintaan bunga tabur biasanya akan meningkat jelang puasa maupun lebaran. Ia tak memungkiri saat ini terjadi kenaikan harga untuk kebutuhan bunga jelang ramadan.
Guna mengantisipasi banyaknya permintaan, ia pun memutuskan untuk menambah persediaan bunga yang dikirim dari wilayah Magelang dan Ambarawa. "Soal harga, kami menyesuaikan kulakan. Pas mahal, ya ikut naik harganya," beber warga Desa Kedungpucang, Kecamatan Bener itu.
Penjual bunga yang telah berjualan lebih dari 25 tahun itu menyatakan harga bunga tabur cukup fluktuatif setiap hari besar nasional. Ia pun tak bisa memastikan kondis harga karena tergantung jumlah permintaan dan persediaan barang. "Sekarang jualan lagi lumayan," ungkapnya.
Pembeli bunga tabur Hermawan Prasetyo, 37, mengungkapkan, Bulan Ruwah atau bulan sebelum puasa tiba menjadi waktu yang tepat untuk ziarah ke makam leluhur.
Dalam prosesi ziarah ini ia bersama keluarga selalu membeli bunga untuk ditabur di atas makam. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. "Setiap tahun ziarah bareng-bareng, kami bersih-bersih makam sambil tabur bunga," jelasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo