Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dalam bentuk menu kering selama masa libur sekolah mendapat tanggapan dari satuan pendidikan. Satu di antaranya datang dari PAUD Ash-Shiddiqiyah, Tegalrejo.
Sekolah menilai skema MBG kering memiliki sisi positif, namun perlu dievaluasi dari aspek gizi, kesehatan, dan kesesuaian dengan kebutuhan anak usia dini.
Kepala PAUD Ash-Shiddiqiyah, Nailatul Muna mengatakan, selama libur sekolah, pelaksanaan MBG tetap berjalan dengan mekanisme pengambilan makanan oleh orang tua di sekolah.
Menu yang dibagikan dikemas secara praktis, sebagian besar berupa makanan kering, meski tetap disertai menu basah yang harus segera diambil agar tidak basi.
Sebelum mendapat menu kering, sekolah melakukan polling kesediaan pengambilan menu kepada wali siswa. Itu dilakukan supaya menu yang dibagikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak mubazir. "Ada yang menyetujui, ada yang tidak," bebernya saat ditemui, Jumat (26/12).
Dia menjelaskan, menu MBG yang diterima pekan pertama terdiri atas buah, susu, roti, dan abon yang dikemas dalam satu paket. Selain itu, terdapat pula makanan basah berupa nasi kuning yang harus diambil di hari yang sama. Buah yang dibagikan berupa apel dan pir, sementara susu diberikan dalam kemasan satu liter.
Dia juga menekankan pentingnya koordinasi antara penyedia program dan pihak sekolah, karena sekolah dinilai lebih memahami kebiasaan dan preferensi makan anak-anak.
Dia menambahkan, program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak.
Namun, pelaksanaannya di lapangan, khususnya selama masa libur sekolah, masih memerlukan evaluasi agar tujuan peningkatan gizi dapat tercapai secara optimal, terutama bagi anak usia dini. (aya)
Editor : Heru Pratomo