Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Alip Sudarmanto, Geluti Seni Ukir dan Lukis Paralon sejak 2019 di Purworejo, Jadi Kerajinan Bernilai, Langganannya Kini Hotel Bintang 5

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 10 Desember 2024 | 15:00 WIB

 

 

 

MERAMBAH MANCANEGARA: Alip Sudarmanto, 52, saat mengerjakan kerajinan lampu dari paralon di bengkel produksinya, Kelurahan Pangenrejo, Purworejo, Sabtu (7/12/2024).
MERAMBAH MANCANEGARA: Alip Sudarmanto, 52, saat mengerjakan kerajinan lampu dari paralon di bengkel produksinya, Kelurahan Pangenrejo, Purworejo, Sabtu (7/12/2024).

PURWOREJO - Alip Sudarmanto, 52, pria asal Purworejo menggeluti dunia seni ukir dan lukis paralon sejak 2019. Ribuan karyanya sudah terjual tidak hanya di Kabupaten Purworejo saja, tetapi juga merambah nusantara. Hotel bintang lima sudah menjadi langganannya. 

Usahanya itu dia beri nama Syahda Craft yang diambil dari nama anaknya nomor tiga. Dunia seni ukir dan lukis paralon, dia tekuni berawal dari keprihatinannya terhadap limbah paralon yang sering dia jumpai saat bekerja di proyek bangunan.

 "Dulu saya pernah kerja di proyek di Jogja, sisa paralon banyak sekali. Kalau dijual ke rongsok, itu murah. Akhirnya saya bakar dan saya jadikan meja kursi. Dari situ kok laku," katanya kepada Radar Jogja, Sabtu (7/12/2024).

Kemudian dia mulai rutin mengolah pipa paralon bekas dari lokasi tempatnya bekerja menjadi beragam hiasan dinding yang punya nilai jual. Selain kerajinan paralon, sebenarnya dia juga membuat kerajinan dari bahan baku kayu, tetapi pasarannya tidak selaris paralon. Sehingga, sampai saat ini dia lebih fokus membuat karya atau kerajinan dari paralon.

Karya-karyanya itu dia pasarkan melalui akun Facebook pribadinya. "Di awal 2020, postingan saya (karya lampu hias) sehari tembus 6.000 komentar. Akhirnya booming, selama tiga bulan saya buat lampu hias terus waktu itu," tambahnya.

Selain lampu hias, Alip juga memproduksi jam dinding, hiasan dinding, letter huruf (lettering), meja, kursi, dan sebagainya. "Pembeli kalau mau request bentuk juga bisa. Dulu paling banyak pesanan lampu hias, kalau sekarang hiasan dinding ukiran wayang yang laku keras," imbuh dia.

Awal produksi, dia hanya menggunakan atau mengandalkan paralon bekas. Namun kini sudah tidak menggunakan paralon bekas lagi. "Saya beli di toko bangunan. Alasan bertahan pakai paralon, selain lebih awet,  juga mudah didapat dan harganya murah," sebut pria kelahiran Purworejo, 19 Januari 1972 ini.

Setiap hari bapak tiga anak itu memproduksi kerajinan sesuai pesanan. Bisa lima sampai 10 kerajinan, bahkan lebih. Semua karya yang dibuat dikerjakan dengan cara manual tanpa menggunakan IT. "Harganya bervariasi, mulai Rp 140 ribu-Rp 250 ribu, tergantung kerumitan dan besar kecilnya," tambahnya.

 

Penjualannya kini sudah tembus pasar nasional, dari Sabang sampai Merauke. Pemesan mulai dari perorangan, instansi, hingga perusahaan besar. Per bulan, saya bisa meraup omzet mulai Rp 10 juta sampai Rp 12 juta. Padahal, awal merintis Syahda Craft dia mengaku tak mengeluarkan modal banyak, hanya sekitar Rp 2 juta. Yakni untuk membeli alat seperti gerinda, gergaji, hingga bor yang bisa digunakan dalam waktu yang lama.

Sementara bahan-bahan lain memanfaatkan bahan yang sudah ada. Mengingat, sebelumnya sekitar 2009 dia pernah membangun usaha membuat boks dari karton bekas untuk dipasok ke toko-toko. "Sekarang kalau ada pesanan ya saya buat. Tapi kini sudah kalah dengan kemasan boks (kertas) yang lebih murah," jelasnya.

Berkat ketelatenan dan keuletannya, usaha ukir dan lukis paralonnya sampai saat ini masih bertahan. Meskipun sudah mulai banyak pesaingnya. Dalam beberapa waktu terakhir, dia justru sering menggarap hiasan interior hotel berbintang, bahkan hotel bintang lima.

Misalnya, Hotel Horizon Jogja, Indoluxe Jogja, Atrium Jogja, Hotel Royal Darmo Malioboro, dan sebagainya. "Saya mengerjakan kampus juga, terakhir Stikes Guna Bangsa Jogjakarta," beber alumni Fisipol UNS ini.

Untuk memperkenalkan produk-produknya, Alip sering mengikuti pameran. Salah satunya pada 2023 lalu di mana  karyanya pernah dilirik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam ajang Apresiasi Karya Indonesia 2023 di Purwokerto.

Di 2024 ini produknya juga sudah sampai Belgia setelah melalui proses kurasi cukup panjang untuk mengikuti pameran di sana. "Saya berharap ke depan kerajinan saya bisa dilirik dan tembus ke pasar internasional," harapnya. (han/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#hotel bintang lima #2019 #bekas #Nusantara #lukis #pasar #nasional #facebook #limbah #terjual #Kabupaten Purworejo #lampu hias #interior #sabang #karya #seni ukir #Alip Sudarmanto #Syahda Craft #merauke #paralon #Kerajinan #ROngsok #hiasan #Jogja #dunia #Pipa Paralon #proyek bangunan #omzet #Purworejo