RADAR JOGJA - Perdana, Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispeterikan) Kabupaten Magelang memanen ikan beong hasil pengembangbiakan di UPTD PIAT Unit BBI Sawangan II, Selasa (15/10). Ada sekitar tiga kuintal ikan beong yang berhasil dipanen dalam kurun waktu 10 bulan. Sebab, pembiakannya cukup sulit.
Keberadaan ikan beong yang merupakan ikan endemik Kabupaten Magelang di perairan sungai semakin langka. Terlebih selama ini, pengusaha atau pelaku UMKM masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. "Sehingga diperlukan upaya pelestarian agar keberdaan ikan beong di perairan kabupaten Magelang tetap terjaga," ujar Kepala Dispeterikan Kabupaten Magelang Joni Indarto.
Kegiatan memanen dan menebar benih ikan beong merupakan rangkaian dari Hari Ikan Nasional. Dia menyebut, ikan beong menjadi salah satu ikon kuliner di Kabupaten Magelang yang memiliki cita rasa lezat dan nilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: Jepang Ditahan Imbang Australia 1-1, Tren Kemenangan dan Cleansheet Samurai Blue Sirna
Baca Juga: Anggota Dewan Baru DPRD Kebumen Kecewa Belum Bisa Kerja Optimal, Alasannya karena Ini
Dia menilai, ikan-ikan lokal yang berada di perairan umum Kabupaten Magelang dapat diadaptasikan di lingkungan kolam budi daya untuk kegiatan usaha yang menguntungkan. Sehingga untuk memperolehnya tidak sepenuhnya mengandalkan hasil tangkapan dari alam.
Kepala Balai UPTD Perbenihan Ikan Air Tawar Unit BBI Sawangan II Sulistyaningrum menjelaskan, sejak 2015, UPTD telah berhasil memijahkan ikan beong secara semi alami. Kondisi itu merupakan pencapaian bagi UPTD karena sebelumnya ikan beong hanya dapat dikembangbiakkan dengan cara di-striping atau pembuahan buatan.
Selama ini, lanjut dia, pengembangbiakan ikan beong yang ada di sejumlah daerah seperti di Sumatera, Jawa Barat, dan lainnya dilakukan dengan striping. "Kalau di sini, sejak 2015, kami melakukan pemijahan semialami. Jadi, kami menginisiasi, dari pemijahan akhir tahun kemarin, coba besarkan sampai akhirnya menjadi usia produksi. Hasilnya kami panen tiga kuintal," sebutnya.
Sulis menuturkan, proses itu juga dibarengi dengan melakukan sejumlah penelitian terkait pemberian pakan dan lainnya. Sehingga empat hari setelah telur menetas, ikan beong akan diberi makan cacing sutra dan larva ikan tawes.
Namun, UPTD tetap melakukan sejumlah adaptasi dengan memberikan pakan berupa pelet.
Saat disinggung soal biaya produksi, lanjut dia, hal itu masih menjadi pekerjaan rumah karena pemeliharaannya cukup sulit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terlebih, feed convention ratio (FCR) atau rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan, masih tinggi. Berkisar di angka 1,8. Padahal, kata dia, tingkat FCR pada ikan ada di angka satu atau di bawah satu.
Baca Juga: Baru Dua Hari Pelaksanaan Operasi Zebra Progo 2024 Polres Gunungkidul Tindak 273 Pengendara
Kondisi itu, praktis membutuhkan penelitian lebih lanjut. Ke depan, dia akan berusaha mencoba pakan yang lain lagi. Secara ekonomi, kalau diterapkan di masyarakat, perlu penelitian lebih lanjut.
“Mungkin nanti ada jenis pakan baru yang bisa dikerjasamakan dengan universitas atau peneliti untuk menentukan jenis pakan yang pas terkait pertumbuhan ikan beong," jelasnya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Magelang Nanda Cahyadi Pribadi mengutarakan, ikan beong menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berburu kuliner mangut beong. Peluang itu harus dimanfaatkan dengan melakukan pengembangbiakan dan budidaya ikan beong.
Ke depan, dia berharap, ikan beong dapat masuk dalam daftar jenis ikan lokal yang dibudidayakan melalui serangkaian proses domestikasi. "Harapannya dispeterikan terus berinovasi agar Kabupaten Magelang menjadi sentra benih ikan air tawar bermutu di Jawa Tengah," harapnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo