RADAR JOGJA - Sebuah masjid kuno dengan satu tiang penyangga masih berdiri tegak di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor. Masjid tersebut merupakan jejak sejarah penyebaran islam di wilayah Sempor.
Hingga kini masyarakat setempat masih menggunakan masjid tersebut untuk kegiatan ibadah.
Masyarakat setempat mempercayai Masjid Saka Tunggal ini sebagai masjid tertua di Kebumen. Pembangunan masjid ini diperkirakan sekitar tahun 1700-an.
Bahkan, pemerintah daerah sendiri telah menetapkan masjid tersebut sebagai bangunan cagar budaya.
Masjid Saka Tunggal berlokasi tak jauh dari pinggir Jalan Gombong-Somagede. Hanya berjarak sekitar dua kilometer ke arah utara dari Secata TNI AD Gombong. Atau berjarak hanya sekitar lima menit dari jalan nasional.
Masjid dengan satu tiang penyangga ini terbilang cukup unik. Penopang utama berdiameter 30 sentimeter belum sedikit pun terlihat keropos. Saka berbahan kayu jati pilihan itu berdiri menjulang ditengah bangunan.
Struktur bangunan atap ditopang susunan limasan ukir yang melingkar mengikuti median bangunan. Sejak 2015 pemerintah daerah menetapkan cagar budaya.
“Masyarakat sampai sekarang masih tetap menjaga. Pas mau ramadan sudah resik-resik,"katanya, Selasa (2/4).
Nuansa arsitektur bangunan klasik begitu terasa pada bagian serambi masjid. Tak sedikit orang datang ke Masjid Saka Tunggal hanya untuk melakukan penelitian.
Sebagian masyarakat menganggap masjid tersebut bukan sekadar bukti penyebaran Islam. Tapi juga menjadi bagian bangunan bersejarah ketika masa penjajahan.
Sejak pertama kali berdiri sudah sepuluh kiai yang ditunjuk sebagai imam masjid tersebut. "Tanda sejarah. Masjid Saka Tunggal ini punya peranan penyebaran Islam di sini," katanya.
Awalnya atap serta dinding bangunan pada masjid ini terbuat dari anyaman bambu dan ijuk. Sekitar satu abad kemudian bangunan berubah menjadi permanen dengan dinding tembok. "Masyarakat tidak berani merubah. Memang sengaja natural. Toh itu kayu lawas, pasti kuat," ungkapnya.
Masjid ini didirikan pertama kali oleh seorang adipati dari Kerajaan Kartasura, Solo. Kala itu sang adipati bernama Kertowecono atau Mangkuprojo bergerilya melawan penjajah hingga wilayah Desa Pekuncen.
Seiring waktu Mangkuprojo juga melakukan syiar agama hingga mendirikan sebuah masjid yang kini menjadi Masjid Saka Tunggal.
"Sempat direnovasi 1990-an. Tapi tidak merubah struktur asli bangunan. Dari ukuran sampai jenis kayu tidak dirubah," ungkapnya.
Secara filosofis masjid dengan satu penyangga ini berarti melambangkan ke Esa-an sang pencipta. Dari sisi perjuangan sejarah bangsa masjid dengan satu penopang menjadi simbol satu tekad untuk bersama mengusir penjajah dari tanah air.
"Nilai yang terkandung itu kuat sekali mulai dari sisi tauhid dan perjalanan kemerdekaan," tuturnya. (pra)
Editor : Satria Pradika