MUNGKID - Kebakaran yang terjadi di Gunung Andong, Kabupaten Magelang pada Kamis siang (10/8), sudah padam. Api diperkirakan sudah padam pada Jumat (11/8) dini hari, sekitar pukul 01.30. Api itu padam dengan sendirinya karena para petugas tidak berani mendekati lokasi kebakaran.
"Alhamdulillah kami mantau sampai pagi dengan teman-teman. Beruntung saat ini sudah tidak ada kepulan api yang terlihat. Hari ini, kami bersama tim lainnya akan naik ke atas untuk orientasi lokasi," jelas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pagergunung Muhlisin, Jumat (11/8).
Hasil pemantauan dari bawah, kata Muhlisin, titik api dan kepulan asap sudah tidak terlihat. Untuk itu, hari ini bersama relawan dan stakeholder lain akan melakukan orientasi di Gunung Andong secara bersama-sama.
Orientasi tersebut dilakukan untuk memastikan luasan yang terdampak. Untuk kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran tersebut, katanya, belum bisa dilakukan penghitungan. "Kami akan melihat vegetasi yang terbakar. Yang pasti kami memastikan api benar-benar padam," katanya.
Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Jogoyasan Surono, 40 menuturkan, kebakaran itu bermula ketika muncul kepulan asap dari sisi barat Gunung Andong. "Sekitar jam 11.00, pertama memang kelihatan asap. Pemadaman awal dilakukan dengan cara manual, pakai kebyok rotan," ujarnya.
Namun, kata dia, karena terlalu berbahaya, para petugas pemadam tidak berani mendekati lokasi kebakaran. Mengingat lokasinya yang curam. Dia bersama Perhutani, BPBD, relawan, maupun MPA hanya mengamati kondisi kebakaran dari lokasi bawah.
Kebakaran tersebut, lanjut dia, tidak hanya terjadi kali ini saja. Melainkan sudah terjadi beberapa kali dan masyarakat sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak menimbulkan kepanikan. "Pernah kebakaran sekitar empat tahun yang lalu. Itu (apinya) padam sendiri," paparnya.
Diberitakan sebelumnya, ada dua petak Gunung Andong yang terbakar. Di antaranya petak 26 C dengan luas 15,10 hektare dan petak 27 F-3 luasnya 9,2 hektare. Adapun tanaman yang terbakar adalah kirinyuh, ilalang, dan tanaman liar lainnya. (aya)
Editor : Amin Surachmad