RADAR JOGJA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh pemerintah daerah siap menghadapi lonjakan kasus Omicron. Berdasarkan prediksi, puncak kasus akan terjadi di akhir Februari hingga awal Maret. Tepatnya 40 hari setelah virus Omicron terdeteksi masuk Indonesia.

Budi memaastikan penularan Covid-19 varian Omicron sudah pada tahap transimisi lokal. Artinya penularan sudah terjadi antar warga yang berinteraksi di lingkungan. Sementara untuk kasus import, diantisipasi dengan adanya karantina bagi pelaku perjalanan dari luar negeri.

“Di negara lain sampai puncak 40 hari, mungkin di Indonesia akhir Februari hingga awal Maret capai puncak. Ini kita perang saja sampai awal Maret,” jelasnya ditemui saat meninjau vaksinasi lansia di SD Muhammadiyah Jogodayoh Sumberlmulyo, Bambanglipuro, Bantul, Jumat (21/1).

Dia juga meminta pemerintah daerah tak kaget atas lonjakan kasus Omicron. Setidaknya skenario antisipasi sudah siap jauh-jauh hari. Paling utama adalah disiplin protokol kesehatan dan capaian vaksinasi.

“Pertama prokes jalan terus. Pakai masker, jangan rapet-rapet (jaga jarak), lalu surveilans tetap jalan jangan takut tes naik dan kurangi pergerakan. Kalau tes ada positif langsung diisolasi saja. Agar tak cepat nular,” pesannya.

Budi menuturkan masuknya Omicron tidak bisa ditolak. Hanya saja dengan strategi yang kuat, maka sebaran bisa ditekan. Sehingga lonjakan kasus tidak terjadi secara massif.

Untuk ciri-ciri Omicron berbeda dengan varian Delta. Varian ini, lanjutnya, memiliki karakter penularan yang lebih cepat. Sehingga otomatis angka kasus tinggi. Walau begitu durasi terjangkit tidak selama varian Delta.

“Ya siap-siap, jadi teman-teman tidak usah panik dan khawatir tetap waspada. Selain naiknya cepat, sembuhnya juga cepat, yang dirawat di rumah sakit lebih rendah,” katanya.

Budi meminta pemerintah daerah mengaktifkan kembali isolasi terpusat. Untuk menampung para pasien yang terpapar Covid-19 khususnya varian Omicron. Tujuannya agar penularan di lingkungan bisa ditekan sedini mungkin.

“Dari data, yang masuk rumah sakit hanya 30 persen dari Delta, lalu yang wafat 1 persen. Disamping penanganan, pencegahan dengan prokes dan vaksin sangat penting,” ujarnya. (dwi)

Nusantara