RADAR JOGJA – Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menghadirkan dua tarian klasik dalam Gelar Muhibah Pikat Amerta Budaya (Gempita Budaya). Kedua tarian ini adalah Bedhaya Sapta dan Beksan Menak Kakung Umarmaya lan Umarmadi. Tersaji di panggung Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa malam (7/12).

Pemilihan tarian memiliki makna yang kuat. Penghageng KHP Kridhamardawa Keraton Jogjakarta KPH Notonegoro menuturkan kedua tarian ada nilai sejarah. Koreografi gerak tari klasik mengacu pada cerita Babad Pasundan.

“Bedhaya Sapta mengisahkan tentang dua punggawa Sultan Agung yaitu Ki Tumenggung Lirbaya dan Ki Tumenggung Nampabaya yang diutus untuk membuat tapal batas antara tanah Mataram dan Pasundan. Kami merasa cerita ini pas untuk dihadirkan di Gempita Budaya,” jelas KPH Notonegoro dalam keterangan tertulisnya, Selasa malam (7/12).

Bedhaya Sapta merupakan tarian yasan dalem atau karya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tarian klasik ini ditarikan oleh tujuh penari perempuan. Pada akhir cerita, kedua Kerajaan kuno tersebut menjalin hubungan yang akrab.

“Sehingga penampilan Bedhaya Sapta ini secara simbolis diharapkan mampu menjadi jembatan hubungan kerja sama dan pertukaran budaya yang baik antara Jogjakarta dengan Jawa Barat,” katanya.

Tarian klasik kedua adalah Beksan Menak Kakung Umarmaya lan Umarmadi. Tarian ini juga merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kanjeng Noto, sapaannya, menceritakan gerak tari terinspirasi dari Wayang Golek yang populer di Jawa Barat.

Beksan Menak Kakung Umarmaya lan Umarmadi, lanjutnya, ditarikan oleh dua orang penari laki-laki. Setiap penari memerankan tokoh Umarmaya dan Umarmadi. Menceritakan tentang pertemuan Adipati Umarmaya dengan Prabu Umarmadi, yang ingin melawan dan mengambil kekuasaan milik Tiyang Agung Jayengrana.

“Hadirnya kesenian tradisi dan klasik dari Jogjakarta maupun Jawa Barat dalam Gempita Budaya ini menjadi bukti bahwa warisan nusantara itu sangatlah kaya. Semoga juga dapat mempererat hubungan antara seniman Pasundan dan Mataram,” ujarnya.

Gempita Budaya ini sendiri merupakan kunjungan balasan Pemprov DIJ kepada Pemprov Jawa Barat. Sebelumnya acara serupa juga berlangsung di area Candi Prambanan Sleman, Rabu (1/12). Bertajuk Pesona Jabar, gelaran tersebut juga menghadirkan beragam kesenian budaya dua daerah. (dwi)

Nusantara