RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 menjadi tantangan dalam penanggulangan stunting atau pertumbuhan anak terhambat disebabkan kurang gizi. Beberapa faktor penyebabnya adalah akses terhadap makanan bergizi, sanitasi hingga air bersih. Kondisi ini kerap ditemui dikeluarga berpenghasilan rendah maupun kehilangan pendapatan selama pandemi.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Suprapto menjelaskan secara teoritis, pandemi dinilai berpengaruh terhadap peningkatan angka stunting di Indonesia. Sehingga upaya menurunkan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi tapi lintas sektoral.

“Target kami untuk penurunan angka stunting hingga 14 persen pada 2024. Tentu ini memerlukan peran banyak pihak untuk berkolaborasi dalam program penanganan,” jelasnya dalam konferensi pers secara daring, Rabu (1/12).

Salah satu strategi adalah penyaluran bantuan sosial. Termasuk sembako bagi masyarakat yang membutuhkan. Disamping itu tetap ada upaya edukasi kepada masyarakat. Fokusnya tentang pengertian dan antisipasi stunting kepada kelompok masyarakat rentan.

Pendekatan juga menyasar ke ibu hamil hingga calon pengantin. Penyebabnya status gizi anak telah terbentuk sejak fase tersebut. Apabila tak paham maka potensi terjadinya stunting pada bayi dan anak semakin tinggi.

“Edukasi sebaiknya dilakukan oleh warga setempat, sementara pendampingan dan pendekatan dengan ibu hamil dianjurkan dilakukan orang per orang, karena setiap individu memiliki keunikan dan permasalahannya masing-masing,” katanya.

Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Kartini Rustandi menyoroti kekhawatiran masyarakat  untuk mengunjungi Puskesmas semasa pandemi. Ini karena ada ketakutan terpapar Covid-19 saat berkunjung ke Puskesmas. Padahal penerapan prokes telah berlaku ketat dan disiplin.

Pihaknya telah sarana pemantau pertumbuhan serta perkembangan anak dengan baik. Khususnya dalam pelayanan di Posyandu. Termasuk melibatkan para kader dan tenaga kesehatan di daerah-daerah.

“Di daerah-daerah tertentu para kader dan tenaga kesehatan juga datang dari rumah ke rumah,” ujarnya.

Pihaknya juga memanfaatkan teknologi. Caranya dengan melakukan telekonseling, agar nakes tetap aman namun kesehatan anak-anak juga terpantau. Lalu ibu hamil juga dapat datang ke Puskesmas dengan perjanjian dan mengedepankan prokes.

Kartini turut memberikan beberapa saran agar bayi terlahir sehat. Pertama dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga kesehatan, asupan makanan yang baik. Lalu menjaga lingkungan agar tetap sehat, termasuk bebas dari asap rokok.

“Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, bukan hanya pada asupan makanan, melainkan juga pola asuh, pola makan, budaya setempat. Sebagai contoh, pemahaman lokal yang salah seperti makan ikan bisa mengganggu kesehatan. Padahal ini hoaks,” katanya.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia M. Adib Khumaidi juga menegaskan pentingnya edukasi sebagai bagian dari upaya preventif promotif dalam hal kesehatan, termasuk mencegah stunting. Selain itu juga adanya revitalisasi peran Puskesmas dalam upaya tersebut.

“Problematika utama mengatasi kesehatan adalah dengan upaya preventif promotif, bukan upaya kuratif. Puskesmas adalah manajer wilayah, perwakilan  Kemenkes disatu wilayah. Itu peran yang harus dikedepankan” ujarnya. (*/sky/dwi)

Nusantara