RADAR JOGJA – Wilayah Gunungkidul mulai memberlakukan skema ganjil genap kendaraan pariwisata. Tidak ada sanksi tilang bagi pelanggar. Cukup balik kanan alias tidak boleh meneruskan perjalanan.

Kasat Lantas Polres Gunungkidul AKP Martinus Sakti mengatakan, kebijakan ganjil genap untuk membatasi kunjungan wisatawan. “Skema ini akan terus diberlakukan saat akhir pekan yakni, Jumat, Sabtu, dan Minggu,” kata Martinus Sakti saat dihubungi kemarin (24/10).

Tidak menyasar pelat nomor kendaraan saja, petugas juga memeriksa vaksin dan mewajibkan pengunjung melakukan scan aplokasi PeduliLindungi sebelum diperbolehkan meneruskan perjalanan. “Khusus (razia pelat nomor) ganjil genap tidak ada sanksi tilang, pelanggar cukup putar balik,” ujarnya.

Dikatakan, skema ganjil genap menindaklanjuti instruksi Mendagri dan mulai diberlakukan sejak Jumat (22/10) malam pukul 20.00. “Yang jelas di tanggal ganjil hanya boleh kendaraan dengan pelat nomor ganjil yang masuk wisata. Hal sama berlaku saat tanggal genap,” ucapnya.

Untuk kendaraan pribadi pemeriksaan dilakukan di dekat tempat pemungutan retribusi wisata. Sedangkan pemeriksaan bus pariwisata dilaksanakan di tiga titik yakni Terminal Semin, Rest Area Bunder, dan Terminal Dhaksinarga Wonosari. Berdasarkan data, puluhan kendaraan terpaksa putar balik karena melanggar skema ganjil genap.

Sekretaris Dispar Kabupaten Gunungkidul Harry Sukmono mengatakan, sesuai Inmendagri kapasitas tiap lokasi wisata dibatasi maksimal hanya 25 persen. “Screning awal, wisatawan diminta menyiapkan persyaratan berwisata,” katanya.

Ketika bus tiba di TPR, petugas tinggal naik ke dalam bus sambil membawa QR Code portabel tersebut. Penumpang bus cukup memindai dari dalam bus, tanpa harus turun satu per satu. Aturan itu harus dipatuhi bersama. “Sejauh ini tidak ada kendala dalam penerapan ganjil genap,” ungkapnya.

Jika Bus berhasil masuk, ditempeli stiker sebagai tanda. Stiker hanya berlaku 1×24 jam. Upaya pembatasan diharapkan bisa meminimalisasi kepadatan pengunjung. “Sehingga persebaran Covid-19 terus bisa ditekan,” tegasnya.

Sebelumnya, Koordinator TPR Baron Heri Mulyono mengatakan, pengecekan bus pariwisata dengan cara petugas masuk bus dan meminta penumpang memindai QR Code PeduliLindungi. “Akan sulit kalau penumpang harus turun, karena berpotensi memicu kemacetan,” katanya.

Harapkan Evaluasi Ganjil Genap

Pengelola wisata mengharapkan adanya evaluasi terhadap penerapan ganjil genap, terhadap nomor kendaraan wisatawan yang ingin berkunjung ke objek wisata (obwis). Sebab, hal itu dinilai tidak efektif dalam upaya mengurangi jumlah kepadatan pengunjung.

Terdapat tiga obwis di Bantul yang terkena pemberlakukan ganjil genap, yakni Hutan Pinus Sari, Pantai Parangtritis, dan pantai bagian barat (Baros-Pandansimo). “Sebenarnya kami senang ada perkembangan terkait dibukanya obwis. Tapi menurut kami, kebijakan ganjil genap itu agak kurang tepat,” sebut anggota Pokdarwis Pantai Goa Cemara Fajar Subekti kepada Radar Jogja kemarin (24/10).

Penerapan ganjil genap membuat pengelola obwis kesulitan mengatur pemesanan. Sebab mereka tidak dapat memastikan, nomor kendaraan yang digunakan oleh pemesan apakah ganjil atau genap. Umumnya pemesan pun berasal dari luar kota. Jumlah kendaraan yang digunakan oleh rombongan juga tidak hanya satu. “Kalau menerima event, harus memperhitungkan menggunakan kendaraan ganjil atau genap. Jadi ribet,” keluhnya.

Menjadi lebih memusingkan, saat wisatawan asal luar DIJ ingin mengunjungi beberapa obwis di Bantul. Perencanaan yang dilakukan oleh biro menjadi berantakan dan kerap mengecewakan pelanggannya. “Kasihan kalau tripnya terkoneksi. Semoga ada koreksi penerapanganjil genap,” ujar Fajar.

Menurut Fajar, pembatasan jumlah pengunjung dapat dilakukan di tempat pemungutan retribusi (TPR). Sehingga ada angka pasti, terhadap jumlah wisatawan yang masuk ke obwis. “Sebenarnya bisa dengan pembatasan di penjualan tiket. Soalnya ada yang menggunakan bus, ada yang naik motor. Pembatasannya jadi tidak efektif kalau cuma berdasar pelat kendaraan,” jelasnya.

Selain Fajar, pelaku wisata yang mengeluhkan penerapan ganjil genap adalah Ketua Pengelola Kawasan Wisata Mangunan, Dlingo, Purwo Harsono. Selama masa uji coba pembukaan obwis, hanya sedikit sekali wisatawan yang datang. Dengan kapasitas 1.900 pengunjung, Hutan Pinus Sari hanya mendapat kunjungan sekitar 100 orang per hari yang terverifikasi aplikasi PeduliLindungi. “Itu pun lebih dari 100 balik kanan (saat tidak dapat verifikasi, Red),” ungkapnya.

Umumnya pengunjung mengurungkan diri masuk ke Hutan Pinus Sari akibat keterbatasan dari penerapan aplikasi PeduliLindungi sebagai verifikator. “Kalau ganjil genap (diterapkan, Red), otomatis mengurangi lagi jumlah wisatawan bisa masuk,” keluhnya.

Hal itu dapat menambah tingkat stres yang dialami pengelola obwis. “Secara otomatis, mohon maaf, kalau ini terlalu lama stressing pengelola yang luar biasa. Jumlah pengunjung sedikit, pendapatan nggak nyambung, tapi menghadapi masalah besar,” cecarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Promosi dan Informasi Data Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Markus Purnomo Adi menuturkan, pemberlakuan ganjil genap hanya berlaku saat akhir pekan. “Untuk menghindari kerumunan dan memberi solusi tempat lain bila pelatnya tidak pas dengan tanggalnya,” ucapnya. (gun/fat/laz)

Nusantara