RADAR JOGJA – Pemerintah Arab Saudi kembali membuka ibadah umrah untuk jamaah Indonesia. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melalui nota diplomatik. Ditandai dengan adanya sinkronisasi dua aplikasi vaksinasi Covid-19 milik Indonesia dan Arab Saudi.

Konsul Jenderal RI Eko Hartono memastikan pemerintah sudah menerima surat pemberitahuan. Langkah selanjutnya adalah pembahasan hal teknis dan kesepakatan bersama. Salah satu prosesnya upaya sinkronisasi aplikasi Peduli Lindungi dengan apikasi yang dimiliki Pemerintah Arab Saudi yakni Tawakkalna.

“Sinkronisasi ini untuk mengetahui status kesehatan dan vaksinasi jemaah yang akan melakukan ibadah disana. Status kesehatan dan sertifikat vaksinasi menjadi syarat penting. Masyarakat kami minta untuk bersabar menunggu,” jelasnya Jumat (22/10).

Arab Saudi juga turut menentukan jenis-jenis vaksin Covid-19 yang memenuhi syarat. Diantaranya vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan vaksin Johnson&Johnson. Jika menerima jenis vaksin yang berbeda jemaah harus memperoleh minimal 1 kali vaksin booster dari 4 merek yang dipakai di Arab Saudi.

Eko menegaskan persyaratan ini bersifat wajib karena telah menjadi peraturan pemerintah Arab Saudi. Dia mengimbau warga Indonesia memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut. Juga agar tidak memaksakan diri berangkat ibadah umrah dengan visa kunjungan.

“Nanti akan terlunta-lunta, tidak bisa menjalankan ibadah umrah di sini. Ini beda dengan sebelum covid. Sekarang harus dengan ketentuan yang berlaku, e-Visa juga harus diurus,” katanya.

Direktur Bina Haji dan Umrah Kemenag Nur Arifin menjelaskan pihaknya terus melakukan koordinasi. Khususnya  dengan berbagai kementerian, lembaga, juga Satgas Covid-19 di Indonesia. Terkait aturan karantina dan vaksin booster Covid-19.

Pihaknya juga telah menyiapkan revisi pedoman pelaksanaan umrah di era pandemi Covid-19. Setelah selesai,  akan dilakukan gladi keberangkatan dan kepulangan umrah. Rencananya berlangsung di asrama haji Pondok Gede dan Bekasi.

“Rancangan umrah tahap awal ini 1 pintu. Dalam  rangka membangun kepercayaan Saudi,  bahwa kita benar-benar tanggungjawab, hanya  memberangkatkan jemaah yang sehat. Setelah ini berhasil, (keberangkatan  atau embarkasi) akan dikembalikan ke daerah-daerah seperti sebelumnya. Jadi mohon jangan salah pengertian,” ujarnya.

Ketua Umum Himpunan  Penyelenggara Umrah dan Haji Budi Darmawan memaparkan sebanyak 62 ribu calon jamaah umrah asal Indonesia tertunda keberangkatannya. Angka ini merupakan akumulasi sejak  penutupan pada 27 Februari 2020.

Budi meminta calon jemaah umrah bersabar. Terlebih seluruh persyaratan juga masih diurus oleh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU). Terlebih aturan dan regulasi di Arab Saudi sangat berbeda dan tercantum dalam satu sistem.

“Jadi harus dipastikan bahwa dimasa pandemi ini, orang yang melakukan perjalanan internasional dalam kondisi sehat dan aman, baik untuk kita dan negara tujuan. Umrah adalah kegiatan berkumpul dengan orang dari berbagai negara. Pada saat kembali ke tanah air, harus dipastikan juga kesehatan jemaah dengan cara karantina. Patuhi aturan tersebut agar tidak terjadi penyebaran kasus,” katanya. (om7/dwi)

Nusantara