RADAR JOGJA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memastikan pembukaan pintu wisata internasional tidak gegabah. Tercatat baru tiga wilayah yang menjalani uji coba. Diantaranya Pulau Bali, Batan dan Bintan.

Untuk Jogjakarta, Sandi memastikan masih harus bersabar. Dia mengakui sejatinya Jogjakarta telah lolos klasifikasi. Khususnya untuk capaian vaksin dan melandainya kasus Covid-19.

“Jogjakarta belum karena bentuknya bukan kepulauan. Untuk Bali, Batan dan Bali masih uji coba 14 Oktober besok,” jelasnya ditemui di Kampung Wisata Rejowinangun Kotagede, Jumat (8/10).

Pertimbangan kepulauan sangatlah beralasan. Menurutnya pengendalian kasus Covid-19 lebih optimal dalam lingkup kepulauan. Sehingga apabila muncul kasus tetap bisa terkendali.

Sandi membeberkan saat ini Indonesia mengantisipasi munculnya Covid-19 varian baru. Belajar dari fenomena varian delta, ada potensi ledakan kasus. Apabila upaya pengendalian kasus tidak berjalan optimal.

“Satu bulan ini sikapi ada varian baru. Jogja bukan kepulauan sehingga harus hati-hati. Jangan sampai merembes ke daerah penyangga,” katanya.

Sandi menegaskan pembukaan wisata internasional tidak bisa gegabah. Potensi penularan varian baru akan sangat terbuka. Sehingga perlu skema penyaring dan pendeteksian dini paparan Covid-19.

Dia mencontohkan persiapan di Pulau Bali. Tercatat operasional wisata internasional disiapkan selama 7 bulan. Guna mempersiapkan seluruh skenario secara detil.

“Bali disiapkan selama 7 bulan dengan pendekatan inkremental atau baby step,” ujarnya.

Secara catatan, pandemi Covid-19 di Jogjakarta terkendali. Terlihat dari capaian vaksin yang lebih dari 80 persen. Masih ditambah dengan melandainya kasus di seluruh kabupaten dan kota.

“Dari segi catatan, Jogja sudah masuk (wisata internasional). Vaksinasi lalu situasi Covid-19 memiliki status baik. Tapi karena bukan kepulauan maka belum bisa dilakukan,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Rahardjo menegaskan pihaknya tak ingin terburu-buru terkait wisatawan mancanegara. Jajarannya tetap menunggu evaluasi dari pemerintah pusat. Terutama untuk tiga wilayah yang melakukan uji coba.

Disatu sisi Singgih juga sependapat dengan Sandi. Bentuk Jogjakarta yang teraglomerasi dengan Jawa Tengah adalah hambatan. Berbeda dengan provinsi atau daerah yang wilayah administrasinya kepulauan.

“Kami lihat perkembangannya dahulu di Bali, Bintan dan Batam. Akan lakukan dengan hati-hati karena varian baru jadi kewaspadaan kita. Jogja lebih banyak domestik sembari menyiapkan yang kelas internasional,” ujarnya.(Dwi)

Nusantara