RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 membuat ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin nyata. Termasuk dalam dunia industri jurnalistik. Berdasarkan survey Media Buffet Public Relations dalam kurun waktu Agustus hingga September 2021 kondisi rentan terjadi sejak awal pandemi.

Dari data tersebut sebanyak 45 persen jurnalis di daerah merasakan keresahan PHK. Survei yang sama, keresahan juga menimpa para jurnalis di wilayah Jabodetabek. Bedanya tingkat keresahan jurnalis di wilayah ini lebih rendah.

“Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar jurnalis menjadi cemas ikut terkena PHK. Dari survei Media Buffet Public Relations, 45 persen jurnalis di daerah dan 22 persen di Jabodetabek khawatir jika perusahaan akan tutup dan berujung PHK,” jelas CEO Media Buffet PR Bima Marzuki, dalam keterangan tertulis, Jumat (1/10).

Pihaknya juga melakukan survei terhadap kondisi personal. Tercatat sebanyak 3 persen jurnalis sedang menderita Covid-19. Sebanyak 36 persen jurnalis saat ini sedang merawat keluarganya yang terpapar. Lalu dari data tersebut sebanyak 50 persen jurnalis tidak bersedia memberikan informasi terkait kondisi kesehatan mereka.

Masih dari data yang sama, sebanyak 51 persen jurnalis mengalami kondisi kesulitan ekonomi. Sementara sebanyak 42 persen jurnalis di kawasan Jabodetabek juga merasakan keresahan yang sama. Seluruhnya mengalami penurunan pendapatan tetap karena terkena penyesuaian upah.

“Kami memahami bahwa pandemi berdampak pada seluruh masyarakat maupun secara profesi, tak terkecuali pada jurnalis. Dari hasil temuan kami, teman-teman jurnalis merasa khawatir dengan kondisi perusahaan mengalami pemotongan gaji. Dan ini bukan cuma melanda perusahaan media kecil, tapi juga media nasional,” katanya.

Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan resiko profesi. Pandemi Covid-19 tak hanya mengancam financial tapi juga kesehatan. Disatu sisi Bima memaparkan para jurnalis harus tetap dituntut bekerja secara profesional.

“Kami sadar bahwa teman-teman jurnalis merupakan salah satu kelompok pekerja yang paling rentan terpapar Covid-19 karena bertemu dengan banyak narasumber serta dengan mobilitas yang tinggi. Demi tanggung jawab profesi, agar senantiasa menghadirkan informasi yang cepat dan akurat, apa pun dihadapi mereka dengan jiwa besar,” ujarnya. (om6/dwi)

Nusantara