RADAR JOGJA – Penambahan kasus aktif Covid-19 di Jogjakarta masih tergolong tinggi. Terbukti saat ini Jogjakarta masih masuk dalam lima besar provinsi dengan kasus Covid-19 tertinggi. Berdasarkan catatan terbaru, akumulasi kasus per 16 Agustus 2021 mencapai 26.193 kasus.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, dominasi kasus adalah pasien isolasi mandiri di rumah. Imbasnya penularan pada ranah ini tergolong tinggi dan cepat. Baik di lingkungan satu rumah maupun tetangga.

“Salah satu alasan mereka senang atau memilih berada di rumah itu karena mereka nyaman atau familiar dengan situasi yang ada di rumah. Itu yang mengakibatkan terjadi klaster keluarga,” jelas Kepala Bagian Humas Biro Humas dan Protokoler Pemprov DIJ Ditya Nanaryo Aji, Selasa (17/8).

Dari total kasus aktif yang ada, dominasi isoman mencapai 85 persen hingga 90 persen. Disatu sisi kondisi shelter isolasi terpusat justru sepi peminat. Baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

Ditya mendorong agar pasien Covid-19 bergeser ke isoter. Selain meminimalisir penularan juga mendapatkan tindakan medis yang optimal. Terutama ancaman perburukan kondisi kesehatan.

“Harapan kami, masyarakat bisa benar-benar memanfaatkan fasilitas shelter terpusat. Agar proses penyembuhan optimal dan tidak terjadi penularan,” kata Kepala Bagian Humas Biro Humas dan Protokoler Pemprov DIJ Ditya Nanaryo Aji.

Terkait lonjakan kasus pasca isoman, ada beberapa hipotesis. Tertinggi menurutnya adalah belum disiplinnya penerapan isoman. Pasien masih berinteraksi dengan anggota keluarga atau tetangga yang sehat.

Selain itu juga fasilitas yang tidak memadai. Rumah-rumah belum ideal untuk penerapan isoman. Alhasil memunculkan potensi interaksi. Baik secara langsung maupun melalui perantara benda.

“Ketika memang sudah terkonfirmasi dan perlakuannya terhadap kasus itu benar sebenarnya klaster keluarga bisa diminimalisir. Tapi kalau tidak disiplin bisa sebaliknya,” ujar Ditya Nanaryo Aji. (dwi/sky)

Nusantara