RADAR JOGJA – Penambahan kasus positif Covid-19, berdasarkan identifikasi dari Dinas Kesehatan (Diskes) Sleman, salah satu pemicunya, masih adanya kerumunan dalam kegiatan sosial masyarakat. Untuk itu beberapa wilayah di Sleman, melakukan pengawasan ketat terhadap kegiatan sosial yang memicu kerumunan.

Seperti halnya di Kapanewon Pakem. Kegiatan hajatan digelar lebih terbatas di bawah kententuan dari pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Panewu Pakem Suyanto mengatakan, terus melakukan koordinasi dengan satgas di tingkat kalurahan. Kegiatan hajatan harus berdasarkan izin dan rekomendasi dari satgas setempat dan berdasarkan rekomendasi kapanewon. Apabila kegiatan hajatan di gelar di rumah, maka harus lebih selektif. Tamu dibatasi 25 persen dari kapasitas ruang. Apabila dalam satu shift, tamu yang hadir tidak memenuhi kuota, maka dapat diberlakukan tiga sampai empat shift.”Kemudian protokol kesehatan (prokes) kita jalankan, sesuai instruksi bupati (Inbup),” ungkapnya belum lama ini.

Pihaknya tak segan menyarankan warganya agar menggelar hajatan di hotel, apabila kapasitas ruang kediaman warga tidak memungkinkan untuk dilakukan hanjatan. Karena dikhawatirkan akan memicu kerumunan.

Lalu, patroli kegiatan sosial juga digencarkan. Dengan menambah komponen dikalangan masyarakat. Untuk turut melakukan pemantauan di tempat-tempat yang mengundang kerumunan. “Antisipasi ini telah dilakukan sejak awal pandemi” katanya.

Sekretaris DaerahSleman Harda Kiswaya mengungkapkan, hajatan merupakan budaya tradisi yang tidak bisa dihilangkan. Kendati begitu, saat pandemi ini harus menerapkan pola baru. Pelaksanaanya harua dilakukan dengan hati-hati. Dengan penerapan prokes ketat. Wajib memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak mengukur suhu badan, dan membatasi jumlah kunjungan maksimal 50 persen. Kemudian juga dalam kegiatan sosial, diimbau digelar lebih cepat. “Kegiatan sosial diketati, jika ada yang nekat menggelar resepsi, tak segan-segan akan kita bubarkan,” kata dia. (mel/pra)

Nusantara