RADAR JOGJA – DINAS Pariwisata Daerah Istimewa Jogjakarta (Dinpar DIJ) memperbolehkan atraksi wisata secara langsung atau offline. Meskipun, daerah tersebut berstatus zona oranye atau merah. Hanya, jumlah pesertanya dibatasi maksimal 5 persen dari kapasitas lokasi.

“Bisa lakukan (atraksi, Red) misal di Tebing Breksi, situasi saat ini masuk ke zona merah,” sebut Kepala Dinpar DIJ, Singgih Raharjo yang dipandu oleh Rustam Fachri, kepada awak media di Hotel Tentrem, Selasa (15/6).
Singgih mengklaim, atraksi digelar dengan menerapkan caring capacity. Sehingga memenuhi protokol kesehatan (prokes) pencegahan penularan Covid-19 dan aman.

Atraksi wisata gejog lesung yang ditampilkan pelaku seni di Wukirsari, Imogiri, Bantul 26 Mei lalu.(.SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Sementara penerapan caring capacity lebih longgar pada zona hijau dan kuning. Di mana jumlah maksimal kapasitas lokasi dapat mencapai 50 persen. “Jadi atraksi kami kendalikan,” sebutnya.

Kebijakan tersebut diambil, tentu guna mendukung bangkitnya pariwisata di DIJ. Terlebih, DIJ menyimpan potensi atraksi wisata yang luar biasa. “Atraksi, kami tidak kurang dari budaya dan alam, kami nggak pernah kekurangan cerita tentang atraksi,” ucapnya.

Saat ini, sektor pariwisata mulai berangsur bangkit dari keterpurukan. Di mana pada triwulan kedua 2020 kami -6,7, triwulan ketiga mulai naik -2, triwulan keempat 0,1. “Pergerakan itu terus naik. Ini menunjukkan dari yang kami lakukan dengan dua strategi dan didukung oleh semua pihak yang berjalan dengan baik,” paparnya.

Dukuh Wunut, Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul, Sugianto pun berharap, kampungnya yang mengampu objek wisata (obwis) Srikeminut dapat dikunjungi wisatawan kembali. Oleh sebab itu, bersama warganya, pria 48 tahun itu merawat seni dan budaya yang sudah ada secara mandiri. “Kami terus latihan, tapi ya sekadar untuk menjaga. Wong belum ada wisatawan yang datang,” bebernya. (fat/bah)

Nusantara