RADAR JOGJA – Kontestasi pemilihan lurah (pilur) serentak 2021 di 35 Kalurahan se-Kabupaten Sleman semakin dekat. Pilur akan digelar pada 22 Agustus mendatang. Kali ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyiapkan 96 tempat pemungutan suara (TPS) keliling, tersebar di 17 Kapanewon.

“TPS keliling itu untuk menjangkau pemilih yang sakit, lansia, disabilitas jasmani dan bagi warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman),” ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman Budiharjo saat ditemui Radar Jogja, di Kantornya Jumat (11/6).

Hal itu untuk penyempurnaan pemilihan dengan sistem e-voting. Memfasilitasi peserta pemilih yang tidak bisa hadir ke TPS. Nantinya, satu kelompok petugas akan meng-cover sepuluh TPS keliling ini. Sehingga, diharapkan dari target perkiraan sebanyak 356.086 pemilih itu dapat terpenuhi.

Untuk menyukseskan pelaksanakan pilur ini, Pemkab Sleman telah menyiapkan tim teknis utama sebanyak 57 personel. Kemudian teknis lapangan, 1.104 personel. Sedangkan jumlah TPS ada 912.

Nah, mengacu pada ketentuan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), nantinya, setiap TPS dibatasi maksimal 900 daftar pemilih tetap (DPT). Sementara yang telah disiapkan sebesar Rp 9,634 miliar.

“Tahapannya kali ini sudah memasuki pendaftaran bakal calon (balon) lurah,” kata Budi. Pejabat pemkab yang merangkap sebagai Plt Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu menyebut, pendaftaran balon lurah sudah dimulai sejak 7 Juni dan akan dibuka hingga 17 Juni mendatang.

Berikutnya tahapan yang dilaksanakan dalam waktu dekat, penetapan dan pengumuman balon lurah. Artinya, balon yang mendaftar itu akan diumumkan panitia. Namun, apabila jumlah peserta balon kurang dari dua, maka akan dilakukan perpanjangan di sekretariat panitia kalurahan hingga tujuh hari kerja.

Tetapi, jika jumlah pendaftar melebihi lima orang, maka lebih dulu dilakukan ujian tertulis. Ini dilaksanakan pada Juli. Termasuk penetapan calon lurah. Sementara persiapan dari segi teknis, panitia akan mengatur ulang layout pemilihan yang berbeda dengan pilur serentak 49 kalurahan tahun lalu.

“Kami atur biliknya, agar lebih privasi, untuk mencegah kebocoran,” kata dia.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menekankan, pelaksanaan pilur kali ini harus melalui protokol kesehatah yang ketat. Semua pemilih akan diatur sehingga tidak terjadi kerumunan. Masker yang sudah menjadi kebutuhan wajib itu, harus dikenakan. Tempat cuci tangan, alat ukur suhu badan, handsanitizer juga disiapkan. Tempat duduknya diatur dan waktu pemilihan diatur jamnya.

“Nah, melihat pengalaman tahun lalu, mengantisipasi keributan saat pemilihan, bilik nanti ditinggikan. Saat ini sudah kami siapkan,” ungkap Kustini.
Dia mengimbau kepada masyarakat agar menjaga Sleman tetap sejuk. Menghargai perbedaan pilihan dan tetap guyup rukun. (mel/bah)

Nusantara