Terpuruknya perekonomian karena pandemi Covid-19 mempengaruhi sejumlah sektor, tak terkecuali mereka yang bekerja sebagai perajin perhiasan. Berkat optimisme untuk terus berkarya, kini mereka mampu bangkit hingga mencapai 75 persen. Bagaimana kisah mereka bertahan saat pandemi?

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Optimistis, itulah yang ditanamkan perajin perhiasan custom Kotagede Burhanudin untuk memulihkan kembali produksi perhiasannya. Usaha olah terampil perhiasan emas, palladium, platinum, dan perak itu sempat merasakan terpuruk dalam penjualannya di tengah kondisi sulit pagebluk korona.

“Pertama pandemi order mulai menurun, anjlok sampai 90 persen,” katanya di rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi perhiasan di Purbayan, Kotagede (9/6).

Sempat vakum dan tidak berkegiatan apa pun. Dari biasanya dalam kondisi normal bisa mampu memproduksi 5-10 cincin setiap bulannya. Memasuki tahun pandemi, tepatnya tiga bulan pertama yakni Maret, April, dan Mei, sama sekali tidak ada order masuk yang otomatis nol pendapatan.

“Dari tiga bulan itu nggak ada orderan sama sekali. Langsung kami berpikir jangan hanya menuruti keadaan, kalau gini terus kita nggak bisa hidup,” ujarnya.

Segala daya upaya dilakukan demi tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-hari yang ditopang dari pendapatan utama hasil pembuatan perhiasan. Optimistis, meski tidak ada pendapatan dari hasil perhiasan yang diproduksi. Sebab, sepinya orderan juga imbas dari toko-toko perhiasan yang menjadi penopang perajin perhiasan itu sepi konsumen.

Sampai akhirnya dengan kondisi sulit seperti itu, terpaksa ia mengumpulkan limbah emas untuk dijual agar membantu kehidupan sehari-harinya bersama keluarga. “Hingga saya jual limbah emas hanya untuk bertahan hidup. Bagaimana caranya supaya nggak mengeluarkan banyak tabungan, walaupun hanya sedikit,” jelasnya.

Laki-laki 57 tahun itu juga biasa menjual limbah emas yaitu cairan yang berisi emas menempel pada sampah-sampah. Pada saat pembuatan emas, selalu ada penyusutan yang secara langsung risikonya menjadi limbah karena tidak bisa dicari secara langsung.

Tetapi, limbahnya selalu menunggu agar terkumpul banyak untuk dijual. Pada saat itu, terpaksa berapa pun berat limbah yang dikumpulkan langsung dijual kepada orang yang berkompeten bisa mengolah limbah emas itu. Dikatakan, limbah emas yang dikumpulkan satu demi satu adalah yang sering menempel pada benda seperti tisu misalnya, kemudian dikumpulkan. Saat itu, mampu terjual Rp5 juta – Rp 6 juta. “Sengaja kami simpan limbahnya karena lumayan bisa untuk tabungan. Kadang kalau belum banyak, belum banyak nilainya,” terangnya.

Ternyata, tidak cukup itu saja. Burhan –sapaan akrabnya– bersama sang istri juga pernah melakoni profesi lain menjadi pedagang ayam kampung, kuliner, buah-buahan dan bumbu-bumbu dapur. Padahal kegiatan ini belum pernah dilakoni sebelumnya. Tepatnya saat puasa tahun lalu.

“Tiap hari kami muter, pernah 100 ekor ayam terjual. Ayam kampung yang sudah dipotong dan masih fresh. Dari pagi sampai sore luar biasa capeknya,” tandasnya.

Seiring berjalannya waktu, bapak empat anak bersama istrinya itu pada titik lelah. Profesi yang belum pernah dilakoni sebelumnya ternyata tidak bertahan lama. Sekiranya hanya sampai Lebaran, Mei tahun 2020. Berangkat dari segala upaya dan inovasi yang terus dilakukannya. Promosi kembali digulirkan dengan mengoptimalkan media sosial atau online. Memposting produk-produk perhiasan yang sedang promo atau memberikan harga terjangkau.

Atau mengirim pesan melalui WhatsApp ke customer atau pelanggannya yang dinilai berpotensi untuk menawarkan jasa. Pelayanan makin ditingkatkan sesuai kemauan pelanggan. Sekadar hanya mereparasi perhiasan hingga melakukan order dengan harga seminimal mungkin yakni Rp 350 ribu.

Sebelumnya, harga paling minimal yang dibanderol Rp 600 ribu – Rp 750 ribu untuk sepasang cincin kawin. Orderan dari konsumen mulai terlihat, walau hanya sedikit. “Sampai segitunya customer meminta budget paling minimal, karena ada pernikahan cuman mereka pinginnya yang budget minim. Ya, kita nuruti konsumen supaya bisa jalan semua,” katanya.

Dampak pandemi juga menggiring konsumen untuk menjual apapun perhiasan yang dimiliki karena terpojok ekonomi. Namun kebanyakan toko perhiasan tidak bersedia menerima kembali lantaran stok penjualan emas yang masih banyak atau belum mampu terjual. Disamping dampak pandemi banyak sekali toko perhiasan yang tutup sementara.

Apa pun dilakoninya, termasuk menerima kembali emas dari konsumen. “Saya welcome mau jual apa saja yang penting logam bisa didaur ulang, kami terima dengan nilai logam itu. Ya, kita eneng-enengke membeli barang tersebut untuk diolah lagi,” jabarnya.

Sampai akhirnya segala daya upaya dari perajin binaan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Mikro (UKM) Kota Jogja itu ternyata membuahkan hasil. Gayung bersambut, bulan Juli mulai ada kebangkitan meski belum dirasa maksimal tetapi bisa rutin.

Kebangkitan ekonomi semakin tinggi, hari demi hari mulai ada konsumen dengan memesan perhiasan di atas harga Rp 5 juta hingga sekarang. “Setelah Lebaran kemarin mulai bangkit lagi. Perbandingan dengan yang sebelumnya bisa jalan 75 persen lah. Kita kerja apa saja, dilakoni,” ucap perajin yang sudah melanglang buana sejak era 90-an ini.

Saat Radar Jogja mendatangi rumahnya di Boharen KG III RT33/RW08 No 656 Purbayan, Kotagede, terlihat aktivitas Burhan yang sedang memproduksi perhiasan. Rumahnya yang mungil dan bergang-gang terlihat satu staf tengah menunggu ruangan yang terisi satu etalase berisi emas ready stok. Di antara 2-4 staf atau karyawan lainnya terdampak dirumahkan, namun selepasnya mereka justru tidak kembali karena telah mandiri lebih layak. “Dari sini mereka lulus pinter buat perhiasan, tinggal satu admin kita,” tambahnya.

Istrinya, Nurmiyati menambahkan, sudah menjadi risiko kala tidak hanya sekadar mencari karyawan, melainkan sekaligus punya niatan untuk membekali ilmu ke mereka agar bisa lebih layak selepas bekerja di tempat usahanya. “Kami nggak sekadar cari karyawan, tapi kami didik supaya naik pangkat. Dari yang reseller mereka juga akhirnya bisa produksi sendiri,” katanya.

Kebangkitan ekonomi ini tak hanya dirasakannya bersama sang suami, melainkan juga kepada karyawan-karyawannya. Bagi dia, ini menjadikan nilai plus kala terpuruk masih mampu membantu yang lain. Selepas dari keterpurukan, ternyata bisa bangkit bersama-sama dengan para karyawannya.

“Sekarang bapak cuma produksi sendiri. Kami belum cari karyawan lagi, karena masih bisa kami tangani. Tapi mereka masih bisa kita ajak kerja sama,” ungkapnya.

Sampai saat ini, omzet yang didapat sudah mencapai Rp 50 juta – Rp 100 juta daripada selama awal-awal pandemi tahun lalu. Produk yang paling banyak diminati konsumen adalah sepasang cincin berlian dengan harga fantastis, antara Rp 10 juta – Rp15 juta. Pun orderan paling rumit juga dikerjakan dengan harga kisaran Rp 1,5 juta. Kali ini pendapatan yang masuk paling banyak didapatkan dari orderan online halaman Instagram-nya.

Konsumen tidak hanya dari wilayah Jogja, melainkan merata seluruh Indonesia. Terbanyak Kalimantan, Sulawesi, Papua, Ambon, dan Pulau Jawa. “Closingnya dari Instagram lebih banyak sekarang. Dari konsumen menengah ke atas,” jelasnya yang menyebut pernah juga ekspor hingga Malaysia dan Jepang.

Sampai sekarang toko dan tempat produksi perhiasan itu tergabung dalam satu rumah saja. Ia lebih memfokuskan melakukan promosi penjualan melalui online dibandingkan offline. Konsumennya tidak hanya lingkup DIJ, melainkan menyebar ke seluruh Indonesia hingga ekspor.

Tadinya memiliki satu toko yang sudah beroperasi hampir enma tahun. Namun telah ditutup satu tahun yang lalu akibat pandemi ini. “Akhirnya kami tutup dulu sampai sekarang eksis di online. Dari online mulai bangkit. Untuk beli perhiasan custom bisa langsung ke sini atau online,” tambahnya. (laz)

Nusantara