RADAR JOGJA – Belasan ibu-ibu menyambangi Pengadilan Negeri (PN) Bantul, kemarin (10/6). Mereka membawa rontek bermuat keluhan yang menuntut uang pasokan arisannya dikembalikan. Dalam sidang perdana dugaan tindak penipuan berkedok arisan Hoki. Di mana sang owner berinisial GRY atau GP diduga merupakan istri anggota DPRD Bantul berinisial DT.

Salah seorang ibu yang merasa tertipu arisan Hoki adalah Lumintu Reni Lestari. Perempuan 42 tahun itu awalnya berniat menabung. Bermodal kepercayaan, arisan dua kali putaran sebelumnya yang lancar. “Saya dulu kali pertama mengenal dia (GP, Red) jualan buah dan baju. Selesai, ikut lagi. Selesai, ikut lagi. Tapi, sejak Januari, arisan diberhentikan. Jadi arisan nggak jalan,” bebernya kepada awak media usai persidangan kemarin.

Arisan Lumintu sedianya cair beberapa hari lalu. Tapi, arisan yang dihentikan sejak Januari membuatnya mengalami kerugian sampai Rp 20 juta. Lumintu pun mengaku tidak tahu alasan dihentikannya arisan. Sebab yang diketahuinya selama ini, semua anggota membayar dengan lancar.

“Dari Januari banyak sekali yang belum dapat. Saya Januari ada dua room yang harus cair. Tapi nggak cair sama sekali. Februari juga ada. Jadi banyak loh. Kami datangi (GP, Red) nggak pernah ketemu sama sekali,” cecarnya.

Lumintu merasa tambah dirugikan, karena saudaranya turut menitip arisan. Besaran yang harus dipasok oleh dia dan saudaranya pun bervariasi. “Ada yang Rp 600 ribu, Rp 900 ribu, sama Rp 70 ribu. Ada yang dapat Rp 15 juta, Rp 12 juta, Rp 5 juta, dan Rp 7 juta,” sebutnya.

Juru bicara korban arisan Hoki, Maria Yosefa Ayu menjelaskan, pihaknya sudah melampaui sidang perdana. Melawan GRY atau GP sebagai tergugat satu dan DT sebagai tergugat dua. “Kami member dari arisan Hoki adalah korban,” tegasnya.

Arisan yang awalnya berjalan lancar mulai macet pada Desember 2020. Di mana member arisan Hoki sudah tidak menerima haknya. Mereka mengaku sudah berusaha untuk menghubungi pihak GP. Tapi tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah. “Perwakilan member sudah berusaha bertemu dengan Mbak GP dan Bapak DT,” ungkapnya.

Saat itu, DT sebagai suami menjanjikan akan membantu menyelesaikan permasalahan di arisan Hoki. Namun upaya yang ditempuh mengalami kebuntuan. Bahkan tergugat sembunyi saat ingin disambangi ke rumahnya. “Beliau selalu sembunyi ketika kami cari ke rumahnya. Kami hubungi juga sudah diblok semua,” ujarnya.

Oleh sebab itu, member arisan Hoki yang belum mendapat haknya menempuh jalur hukum. Selain itu, GP turut menerima uang administrasi dalam arisan yang dikelolanya. “Beliau menerima uang administrasi cukup beragam. Kami hitung keuntungannya sesuai data itu, dari Agustus sampai Desember, beliau sudah meraih keuntungan Rp 600 juta,” ucapnya.

Kuasa hukum korban arisan Hoki, Mahendra Handoko menyebut, pihaknya melayangkan gugatan yang diterima PN Bantul dengan nomor perkara 51/Pdt.G/2021/PN.Btl. Gugatan diajukan oleh 17 korban yang menjalani sidang perdana kemarin. “Ini sidang pertama, tapi karena kedua tergugat tidak datang dan sidang dilanjutkan 22 Juni,” bebernya.

Mahendra pun mengungkap, DT adalah seorang anggota DPRD Bantul. Ketidakjelasan nasib dana arisan para kliennya, membuat Mahenra mengancam akan menggelar aksi. “Pak DT sebagai anggota DPRD Bantul, dimohon ketemu dengan ibu-ibu,” cetusnya.

Terpisah, anggota Badan Kehormatan DPRD Bantul Sadji mengaku belum tahu terkait informasi adanya anggota DPRD dan istrinya yang tersangkut masalah arisan. “Yang mana to itu, saya belum bertemu dengan masalah itu. Mbah Sadji kaitannya dengan komunitas arisan Hoki, istilahnya blank betul,” sebutnya. (fat/laz)

Nusantara