RADAR JOGJA – Pukulan berat bagi usaha sektor pariwisata di masa pandemi Covid-19 hingga harus berubah profesi untuk bertahan hidup. Saat ini sudah mulai menunjukkan kebangkitan dengan berupaya melakukan berbagai promosi perjalanan dan destinasi wisata.

Wakil Ketua DPD Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) DIJ Bidang Pengembangan Produk Andri Supiryatna Sasmita membenarkan hal ITU. Sudah hampir 1,5 tahun tidak berkegiatan sama sekali untuk menghandle tamu akibat dampak pagebluk korona. Banyak tamu yang tidak berwisata dan melakukan perjalanan ke wilayah DIJ. “Jadi memang kami bertahan dengan apa yang ada dan yang kami bisa. Kami selalu melakukan seperti itu,” katanya usai konferensi pers kemarin (10/6).

Andri menjelaskan, selama tiga bulan awal pandemi tidak tahu apa yang harus dilakukan dari 158 anggota Asita DIJ. Dikiranya pandemi hanya akan berlangsung beberapa bulan saja, ternyata tidak. Tidak tinggal diam, lewat empat bulan tahun lalu mereka mulai berpikir bisa tetap bekerja dan berkegiatan lain. “Barulah lewat empat bulan itu teman-teman mulai bisnis yang lain. Terutama bisnis kuliner,” ujarnya.

Anggota Asita yang terdiri atas tour dan travel agent untuk perjalanan wisata akhirnya beralih profesi usaha sementara agar bertahan hidup. Cara bertahan mereka bermacam-macam. Ada yang ke bisnis kuliner dan hobi olah terampil seperti membuat rak bunga. Meski begitu, mereka tidak meninggalkan organisasi yang dinaunginya untuk melakukan berbagai upaya kesiapan. “Sembari terus melakukan kesiapan-kesiapan dengan wisata di era baru, kami harus selalu siap. Jadi begitu tamu datang lagi, kami siap,” jelasnya.

Salah satu upaya yang digulirkan adalah dengan even Jogja Bisnis Day pada 17 Juni 2021 di Grand Rohan Hotel dan Asita Jogja Travel Fair pada 18-20 Juni di Sleman City Hall. Dengan even itu, paling tidak diutamakan wisatawan domestik bangkit lagi. “Kami semua anggota Asita paling tidak bisa bekerja lagi untuk menghandel tamu-tamu domestik. Ya, domestik reborn lah istilahnya,” terangnya.

Pada even Jogja Bisnis Day, salah satu agendanya adalah Business to Business (B2B) table top dengan mendatangkan seller dari luar Jogja. Seller terdiri atas destinasi wisata, Dinas Pariwisata dari luar Pulau Jawa, hotel-hotel dari luar Jogja, dan hotel di Jogja itu sendiri. Akan ada 25 paket wisata yang ditawarkan. Sementara buyer adalah anggota Asita ditambah dari asosiasi lain di luar Asita. “Target kami buyer anggota Asita yaitu 60 travel agent dan 10 travel agent dari luar anggota Asita,” jabarnya.

Sementara itu, biasa pihaknya mengundang para buyer dari luar Jogja, sekarang dibalik mengundang seller dari luar Jogja. Ini supaya anggota Asita mempunyai multimarket. Biasanya hanya single market yaitu menjual produk-produk tourism di Jogja. “Sekarang supaya lebih bervariasi, anggota Asita bisa menjual produk di luar Jogja,” tambahnya.

Kegiatan akan dilanjutkan dengan Asita Jogja Travel Fair di Sleman City Hall (SCH). Tentunya semua seller yang ada di Jogja Bisnis Day akan menjadi seller di Sleman City Hall. Dan anggota Asita yang menjadi buyer di Grand Rohan Hotel akan menjadi seller juga di Selman City Hall. Targetnya Business to Customer (B2C) yang mana customer merupakan pengunjung yang datang ke SCH.

Sementara itu Kabid Promosi dan Pemasaran Pariwisata DIJ Marlina mengatakan, program ini merupakan strategi dari kalangan industri dalam rangka meningkatkan perekonomian melalui sektor pariwisata. Di satu sisi ini sebagai strategi untuk melihat kesiapan pasar mereka. Maupun sebagai kampanye tentang Jogja di masa new normal bahwa Jogja saat ini sudah menerapkan prokes yang ketat. (wia/laz)

Nusantara