RADAR JOGJA – Perilaku merokok di Kabupaten Sleman masih tinggi. Meskipun di bawah angka nasional 56,51 persen. Berdasarkan hasil kunjungan keluarga melalui program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga pada 2020 lalu diketahui 41,1 persen warga Sleman, merokok.

Merokok dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Pada anak, dapat menyebabkan stunting. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendorong terwujudnya kawasan tanpa rokok (KTR) dan imbauan berhenti merokok karena dapat menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan. Hal ini sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 42 tahun 2012 tentang KTR. Serta Perbup Nomor 27 tahun 2019 tentang program percepatan penanggulangan stunting.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengungkapkan, tujuan implementasi tersebut untuk mewujudkan keluarga sehat bebas asap rokok. Yang mana dapat berpengaruh pada risiko stunting. Atau bayi kerdil akibat kekurangan gizi kronis. Dikatakan, data kejadian stunting saat ini sebesar 7,24 persen. “Kami libatkan lintas sektor. Juga memfasilitasi pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Fasilitas pemberdayaan pada 2020 telah tercapai di 220 padukuhan. Ditambah sekolah yang mendeklarasikan KTR. Diharapkan dapat menekan resiko dampak buruk kesehatan karena pencemaran asap rokok.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengungkapkan, KTR belum sepenuhnya dilaksanakan di Kabupaten Sleman karena menemui kendala. Yaitu, berkaitan dengan regulasi yang masih berwujud perbup. Belum dijadikan perda.

Nah, berkaitan dengan HTTS yangvjatuh pada 31 Mei, pihaknya mengajak masyarakat untuk mengkampanyekan hari tanpa merokok. Harapannya Sleman sehat dimulai dari keluarga. Mencegah asap rokok, juga antisipasi stunting. “Ada 200-an padukuhan di Kabupaten Sleman sebelum pandemi sudah menyiapkan KTR, ini diterapkan 2015-2019. Kita dorong melanjutkan,” tegasnya. (mel/pra)

Nusantara