RADAR JOGJA – Salah satu kertas tradisional Nusantara adalah dluwang. Kertas yang teruji, mampu bertahan sampai ratusan tahun dan sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun, kini sudah tidak banyak yang dapat memproduksinya.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Radar Jogja bertandang ke kediaman salah satu atau mungkin satu-satunya pelestari kertas dluwang di DIJ. Terletak di Padukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul, sang pemilik rumah tenggah menunggu para anak didiknya. Dia adalah Indra Setiawan atau lebih dikenal Indra Suroinggeno.

Sebenarnya anak didik yang ditunggu Indra bukanlah anak didik resmi. Mereka adalah anak-anak sekitar rumah Indra. Anak-anak ini juga merupakan anggota Sanggar Bhuana Alit yang diasuh oleh pria 35 tahun itu. “Saya punya cita-cita, kertas dluwang itu lestari,” cetusnya kepada Radar Jogja Kamis (4/6).

Kertas dluwang memang tergolong kertas superior. Jejak sejarahnya pun dapat dirunut. Di mana penggunaannya telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Catatan terakhir penggunaan kertas dluwang oleh Belanda di tahun 1929. Oleh sebab itu keberadaan kertas dluwang tidak boleh punah.

“Kalau ada banyak yang buat, itu goal saya. Bukan saya terus yang buat. Goal saya adalah sudah banyak orang yang bisa membuat kertas ini. Lestari, menyambung sejarah,” tuturnya.

Di samping mengajarkan pengetahuannya kepada anak didik di Sanggar Bhuana Alit, Indra juga kerap diundang sebagai pemateri workshop. Kerap pula dia memberikan kertas dluwang cuma-cuma kepada rekan akrabnya. Padahal kertas ini dihargai Rp 75 per centimeter persegi. Di mana satu lembar kertas dengan ukuran besar bisa mencapai jutaan rupiah.

“Saya juga saling bertukar informasi dan pengetahuan dengan komunitas. Kami diajarkan aksara Jawa, saya mengajar cara membuat kertas dluwang,” beber pria yang pernah mendapat beasiswa perwayangan dari Keraton Jogjakarta itu.
Perbicangan kami terputus, saat tiba-tiba salah satu anak didik Indra datang. Membawa bibit ikan untuk disemai di sungai dekat rumahnya. “Nah, ini salah satu anak yang saya ajarkan cara membuat kertas dluwang. Masih ada dua orang lagi yang akan datang,” jelasnya.

Pria yang juga pemilik Museum Wayang Beber itu mengaku berkenalan dengan kertas dluwang karena merupakan salah satu media yang digunakannya. Generasi pertama wayang beber dalam bentuk gulungan menggunakan media kulit pohon glugu atau disebut pohon Paper Mulberry. Tanaman itu memiliki kualitas yang sama dengan Papirus dari Mesir.

“Kertas dluwang bahkan dapat bertahan hingga ratusan tahun. Pada zaman dahulu kertas ini yang dibuat dari kulit glugu, juga dipergunakan sebagai media pembuatan kitab,” ungkapnya kemudian mengajak para anak didiknya ke tempat pembuatan kertas dluwang.

Proses pembuatan kertas diawali dengan pemotongan batang pohon sesuai dengan panjang yang diinginkan. Kemudian kulit terluar yang berwarna coklat dihilangkan, begitu juga lapisan kedua yang berwarna hijau. Bagian yang digunakan dalam pembuatan kertas dluwang adalah bagian ketiga dari pohon glugu yang dikelupas dari batangnya. Setelah itu, kulit bagian ketiga itu direndam selama beberapa jam dan baru siap untuk ditempa atau pukul menggunakan kuningan. Dapat juga batu dengan beralaskan kayu sampai pipih.

Selanjutnya disatukan dengan beberapa lembar lainnya sampai pada ukuran dan ketebalan yang dikehendaki. Proses selanjutnya adalah fermentasi, kertas dluwang dibungkus dengan daun pisang selama tiga sampai lima hari. “Ini harus tepat waktu, kalau meleset nggak dipukul bisa gagal,” tunjuknya, seraya membuka bungkusan daun pisang yang berisi lembaran kulit kayu yang sudah difermentasi. Setelah dipukul sesuai ukuran yang diinginkan, kertas kemudian diangin-anginkan pada permukaan yang datar sampai kering. (laz)

Nusantara