RADAR JOGJA – Pelaku pariwisata di Kota Jogja menyayangkan viralnya unggahan pengunjung yang mengeluhkan harga pecel lele di sekitar Malioboro beberapa waktu lalu. Mereka berharap hal itu menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono meminta momentum ini menjadi intropeksi semua pihak. Terutama untuk menjaga Kota Jogja, maupun DIJ, yang disebut kota wisata dan kota pendidikan. “Sudah dua tahun ini kita mengalami paceklik karena pandemi, mari kita jaga bersama-sama brand Kota Jogja ini,” ajaknya ketika dikonfirmasi kemarin (28/5).

Deddy menilai hal ini menjadi pelajaran. Bagi pedagang untuk tidak aji mumpung menaikkan harga. Begitu pula pengunjung harus mulai memperhatikan ada tidaknya daftar harga yang terpasang sebelum memesan. “Tak perlu saling menyalahkan, tapi jadi introspeksi,” tuturnya.

Pemilik Hotel Ruba Grha ini menambahkan, hingga kemarin belum mendapat pertanyaan dari klien maupun wisatawan terkait pemberitaan yang viral tersebut. Itu karena, lanjut dia, setiap wisatawan memiliki karakter yang berbeda-beda.

Dia mencontohkan, ada pengunjung yang tidak keberatan membayar secangkir kopi seharga puluhan hingga ratusan ribu rupiah di kafe atau hotel. Itu karena juga mencari suasana yang nyaman. Berbeda halnya dengan kopi di angkringan. “Sama-sama kopi tapi harganya berbeda, karena juga membeli suasana,” jelasnya.

Hal yang sama diungkapkan Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogya (BP2KY) Aldi Fadhil Diyanto. Dia menilai perlunya mempelajari berbagai aspek dalam pariwisata yang menimbulkan perbedaan dalam perekonomian. Seperti, harga makanan di kawasan Malioboro akan cenderung lebih tinggi dibanding kawasan pemukiman atau dekat kampus. “Karena Malioboro ini di kawasan premium, wajar jika harganya berbeda dengan kawasan pinggiran,” ujarnya.

Terlebih, tambah dia, saat ini yang masih pandemi Covid-19 pedagang dituntut untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Mulai dari menyediakan tempat air, sabun atau hand sanitizer. Sebagai syarat usahanya boleh beroperasi. Hal itu juga menambah ongkos bagi pedagang. “Itu supaya pengunjung tetap bisa menikmati suasana makan malam di Malioboro,” ungkapnya.

Meski sama halnya dengan Deddy, dia juga meminta pedagang memasang daftar harga. Selain itu, wisawatan juga diminta memilih lokasi makan yang menyediakan daftar harga.

Hal lain yang disoroti BOD Sekar Kedhaton Restaurant ini adalah mudahnya jari-jari mengunggah apa pun ke media sosial. Dia berharap ada edukasi dalam memanfaatkan medsos. Terlebih yang isinya belum tentu sesuai dengan yang dinyatakan dalam konten yang di-uploud.

“Dampaknya perlu disikapi dengan bijak, perlu memberikan pemberitaan yang positif untuk mempromosikan pariwisata Jogja,” harapnya.

Terkait unggahan yang viral itu, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi meminta agar tidak perlu mempermasalahkan pengunggah kasus pecel lele itu. Sebab, kata HP, wisatawan tidak tahu itu wilayah Malioboro atau Jalan Perwakilan. Tahunya berada di kawasan Malioboro. “Meskipun ternyata akhirnya terkuak, semua pedagang di Jalan Malioboro tidak ada yang memberikan harga yang tidak wajar, tetapi yang melakukan adalah pedagang di Jalan Perwakilan,” ungkapnya.

Menyangkut pernyataan salah seorang pedagang yang akan menggugat pengunggah kasus pecel lele, HP mengaku telah bicara dengan paguyuban dan komunitas Malioboro. Semuanya mengatakan tidak ada yang akan mengajukan gugatan. “Artinya jika ada yang mau menggugat, itu bukan tindakan komunitas dan paguyuban,” jelasnya.

Mantan wartawan ini juga mengatakan kasus ini sebagai instrospeksi untuk meningkatkan layanan kepada wisatawan. Di antaranya apakah para pedagang mencantumkan harganya, bisa menjebak pembeli. Contoh menjual pecel lele, hanya diberi pecelnya saja itu sudah menjebak.

“Pecel lele itu ya komplet sudah dengan nasi, lalapan dan sambalnya. Tapi masih bisa menawarkan, jika tambahan lele, lalapan, sambel, nasi ya diberi harga sendiri,” jelasnya.

Terkait informasi pengaduan, HP menyebut setiap petugas Jogoboro di Malioboro bisa membantu semua persoalan yang ada di Malioboro. Termasuk jika menghadapi keluhan harga yang tidak wajar. “Di gate atau gerbang zonasi di Malioboro akan kita tempel info pengaduan. Atau petugas yang jaga gate itu juga bisa melayani pengaduan,” urainya. (*/pra/laz)

Nusantara