RADAR JOGJA – Pesebaran Covid-19 di DIJ belum sepenuhnya terkendali. Buktinya Dusun Ngemplong, Umbulmartani Kapanewon Ngemplak terpaksa menjalani mikro lockdown. Bahkan klaster Covid-19 yang terjadi di dua RT, RW 48, Padukuhan Ngaglik, Caturharjo, Sleman telah menimbulkan masalah sosial.

Warga KTP Ngaglik dipulangkan dari perusahaannya, padahal lingkup tempat tinggal berada di zona hijau. “Dampaknya signifikan,” ungkap Dukuh Ngaglik Agung Wahyu Riyanto saat mengikuti rapat koordinasi jajaran Forum Komunikasi Pimpinan (Forkompim) Kapanewon Sleman di Kantor Kalurahan Caturharjo, kemarin (26/5).

Dia mengaku, mendapatkan banyak aduan masyarakat. Sebab, sejumlah warga di zona hijau, RT 3 dan RT 4 tidak bisa bekerja. Warga dipulangkan dari tempat kerja masing-masing. Mereka mendapat klaim, bahwa Padukuhan Ngaglik sebagai zona paparan Covid-19. Dan dikhawatirkan, akan memicu persebaran Covid-19. “Padahal kan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) saat ini skalanya mikro. Zona berdasarkan RT, bukan padukuhan,” ungkap Agung.

Dia geram. Menyayangkan, beredarnya video viral penjemputan warganya. Yang seolah-olah kasusnya merebak hingga satu padukuhan. Dan ini berdampak pada kondisi psikis masyarakat. Sebab, banyak yang mengeluh. Tak bisa bekerja. “Mereka mau makan apa, belum lagi besok (hari ini, red) siswa harus mengikuti ujian ASPD (asesmen standarisasi pendidikan daerah), ini bagaimana, saya sangat sedih,” keluhnya.

Di sisi lain, finansial mereka juga tidak akan ter-back up. Terlebih jika harus ditetapkan penyekatan, mikro lockdown tingkat padukuhan dan perlakuan sama dengan pasien terpapar. “Justru ini semakin runyam. Apa nggak akan semakin berontak,” ungkap Agung penuh penekanan.

Menyikapi hal itu pihak Forkompim Kapanewon Sleman akan melakukan koordinasi dengan pemkab untuk mencari solusi, bagaimana langkah penanganan yang tepat. Apabila surat keterangan pengantar kerja dari kalurahan dirasa diperlukan. “Ada puluhan warga mengadu, kalau memang diperlukan konsepnya dibuatkan surat keterangan,” tandas Lurah Caturharjo Agus Sutanto di lokasi.

Sebelumnya, sebanyak 52 warga di RT 1 dan RT 2, RW 48, Padukuhan Ngaglik terpapar Covid-19. Kasus bermula, sebelum lebaran. Pada 2 Mei lalu, seorang warga di RT 2 terpapar Covid-19 dan dibawa ke RS setelah di swab PCR hasilnya positif. Lalu satu orang lagi menjalani swab mandiri dan pada 9 Mei, dinyatakan positif. “Satu di antaranya meninggal dunia, sebelum lebaran,” ungkapnya.

Sedang di dusun Ngemplong, Umbulmartani Kapanewon Ngemplak Umbulmartani Kapanewon Ngemplak terpaksa menjalani mikro lockdown. Penyebabnya ada 11 warga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Panewu Ngemplak Siti Wahyu Purwaningsih memastikan tindakan awal berupa tracing kontak erat kasus. Khususnya kepada warga RT 1 dan RT 2 di Dusun Ngemplak II. Lockdown selama lima hari. “otal kasus di dusun Ngemplong atau Ngemplak II ada 11 kasus. Terdiri dari dua orang di RT 1 dan sembilan orang di RT 2. “Masih klaster keluarga tapi di kedua RT ini tak ada hubungan keluarga atau kontak sosial,” jelasnya. (mel/pra)

Nusantara