RADAR JOGJA – Ada banyak cara untuk melepas sang tokoh. Masyarakat sastra Senin (12/4) mendeklarasikan pendirian “Museum Sastra Yogyakarta” untuk mengenang Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi yang meninggal dunia belum lama ini.

Keberadaan museum ini dinilai menjadi penting sebagai bagian dari dunia pendidikan dan dunia pariwisata. Menurut anggota Masyarakat Seni Jogjakarta Sigit Sugito, museum tidak hanya sebagai tempat penyimpanan artefak karya-karya lama.

Karya pujangga keraton, tetapi juga karya sastra modern. Sekaligus sebagai pusat pengetahuan dan tempat berhimpun untuk melahirkan dan mencipta karya-karya yang tersinergi dengan dunia sastra.

Museum yang ada di bangunan Jogja Library di Jalan Malioboro itu diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi DIJ sebagai daerah tujuan wisata utama. “Selain itu bisa jadi tempat berkumpul anak-anak muda pecinta seni, terutama sastra,” ujarnya.

Sigit menyatakan, generasi muda juga perlu tahu bahwa kata-kata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka dari itu setelah selesainya pandemi, ia ingin menjadikan musem itu menjadi semacam ruang publik bagi pecinta sastra di Jogjakarta, bahkan seluruh Indonesia.

Dalam deklarasi itu juga dilakukan beberapa aksi seni. Salah satunya pembacaan puisi yang dilakukan tokoh dari berbagai golongan. Ada birokrat, aktivis, ada pula dari kalangan politisi dan akademisi.

Salah seorang pembaca puisi bernama MN Wibowo membacakan puisi dengan cara yang menarik. Ia mengenakan jas hujan dan helm ketika membacakan kata-kata indah yang ia tulis sendiri.

Wibowo punya alasan khusus mengenakan pakaian semacam itu. Menurutnya, puisi tidak pernah mati. “Termasuk ketika ditarik dengan ruang-ruang pertunjukan apa pun seperti ini,” katanya. (kur/laz)

Nusantara