RADAR JOGJA – Guntingan artikel atau berita dari surat kabar atau majalah, kemudian ditata dan ditempelkan pada kertas khusus. Selanjutnya dibendel dengan mencantumkan nama penyusun kliping di bagian sampul. Layaknya buku buatan sendiri, lengkap dengan kata pengantar dan daftar isi. Dilengkapi pula dengan nomor halaman dan ditulis manual. Ada yang mengkreasikan setiap potongan lembar dengan memberikan aksen dekorasi atau hiasan.

“Begitulah seni mengkliping. Serasa menyusun buku sendiri,” ungkap pengajar seni di Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Mikke Susanto kepada Radar Jogja Jumat (11/2). Menurutnya, dalam menyusun setiap artikelnya mengundang kreativitas untuk melayout. Mengguting yang efektif, kliping dipotong dengan cutter pakai penggaris. Agar rapi dan lurus.

Mikke mengatakan, kliping merupakan arsip otentik yang tak akan tergantikan oleh zaman. Selama industri cetak-mencetak dan koran cetak masih berjalan, kliping akan tetap berjalan. Sedikit berbeda dengan artikel web yang mengandalkan komputer sebagai media pendukung.

Tak banyak yang tahu, kapan kliping ini muncul. Namun tradisi mengkliping sudah ada sejak lama. Bahkan sekitar 1950-an, sudah dilakukan oleh para peneliti. Misalnya tokoh sastrawan Hans Bague (HB) Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta, mengumpulkan kliping kemudian dibukukan dan dijadikan arsip. Sebagai bukti fisik.
Mikke pun demikian. Kegiatan mengkliping sudah dia lakukan sejak SMA kelas II. Tepatnya 1987. Hingga sekarang masih berlangsung. Bukti otentik yang dia arsipkan itu menjadi pedoman dalam menyusun buku. Sebagaimana diketahui, Mikke aktif menulis buku ataupun artikel yang berkaitan dengan seni. Khususnya seni rupa.

“Lebih banyak kliping seni rupa sama logo-logo iklan. Menjadi gambaran bagaimana membuat buku, logo perusahaan atau organisasi,” ungkap pria kelahiran Jember, Jawa Timur, yang kini tinggal di Godean, Sleman, itu.
Upaya mengarsipkan melalui kliping ini dipicu minimnya buku-buku seni kala itu. Pada 1980 buku-buku seni sangat mahal. Salah satunya yang mudah di akses hanya koran. “Itu pun hanya Jawa Pos. Koran lainnya, masuk Jember sore hari. Kalau tidak pagi berikutnya,” ujar Mikke menyebutkan kampung halamannya terlalu pelosok.

Nah, koran-koran yang sudah dia baca kemudian dia tandai artikel yang menurutnya menarik. Pun artikel perkembangan berita turut menjadi perhatiannya. Buru-buru halaman koran itu dia sobek. Jika sewaktu-waktu longgar, dia akan menyusunnya ke dalam buku kliping. “Koran-koran bekas yang didapat dari rumah habisnya untuk itu,” ucap pria kahiran 1973 ini.
Rutinitas mengkliping ini rupanya menimbulkan kebanggaan tersediri baginya. Ketika bendelan kliping itu tersusun menjadi sebuah buku, tak ayal mendapatkan apresiasi, bahkan menjadi buku bacaan menarik yang dapat dinikmati banyak orang. Termasuk teman-temannya yang dulu sebagai mahasiswa seni.

Aktif membuat kliping, pada 2000 lalu dia pernah menggelar pameran arsip budaya Jogjakarta. Mikke menyebut hingga saat ini koleksi klipingnya tidak terhitung. “Kalau disusun ke atas kira-kira 20 meteran lah,” sebutnya.
Menurutnya, melakukan arsip di era ini, baik arsip fisik maupun arsip web, menjadi sangat penting untuk mengetahui sebuah perkembangan. Sekalipun hanya pameran kecil, kalau tidak ada muatan artikelnya atau tidak diarsipkan, maka nihil intelektual. (mel/laz)

Nusantara