RADAR JOGJA – Aktivitas Gunung Merapi kembali meredup setelah mengalami guguran awan panas (wedhus gembel) pada Rabu (27/1) lalu. Masih dalam status siaga atau level III, zona rawan aktivitas Merapi mengarah ke barat daya, tepatnya di hulu Kali Krasak dan Boyong.

Warga Turgo, Purwobinangun, Pakem, yang semula mengungsi di barak pengungsian per kemarin (29/1) diizinkan kembali ke rumah masing-masing. “Hanya kelompok rentan saja yang mengungsi. Bukan kelompok rentan, tidak wajib mengungsi,” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Joko Supriyanto di sela rapat evaluasi erupsi Gunung Merapi, di Aula Setda Pemkab Sleman, kemarin (29/1).

Disebutkan, ada 60 kelompok rentan di Padukuhan Turgo. Tergabung dari RT 2, RT 3, dan RT 4. Terdiri atas balita atau anak-anak, ibu hamil dan lansia. Kelompok ini wajib mengungsi. Namun di luar kelompok itu, warga boleh beraktivitas kembali ke rumah masing-masing untuk mencari pakan dan mengurus ternak.

Joko mengatakan, di luar radius 5 kilometer, wilayah Turgo dalam kategori aman. Sebab berjarak 6,5 meter dari puncak Merapi. Berdasarkan pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Penelitian Geologi Kebencanaan (BPPTKG) Jogjakarta, masyarakat dapat kembali pulang dan boleh menempati rumah seperti biasa. Dan, beberapa warga pun mulai kembali pulang untuk beraktivitas seperti biasa.

“Awal mengungsi kemarin ada 150 orang. Lalu Kamis sore (28/1) naik menjadi 159 dan hari ini 140 orang,” kata Joko. Kendati begitu, data terus berubah. Ia menuturkan, pihaknya telah memperpanjang status tanggap darurat sampai akhir Februari. Pihaknya juga terus melakukan evaluasi kesiapan masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).

Ia meminta setiap OPD turut terlibat, memberikan penanganan pengungsian. Misalnya dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3)  kesiapan mengatur ternak. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) mengatur jalur evakuasi dan Dinas Perhubungan (Dishub) menyiapkan penerangan jalan maupun penerangan di pengungsian. Termasuk layanan wifi, toilet portabel dan pos aduan anak dan perempuan.

Lain halnya di Glagaharjo, Cangkrinan. Meski warga Kalitengah Lor sempat mengungsi, melihat Merapi landai mereka telah kembali ke rumah masing-masing. Lurah Glagaharjo Suroto mengatakan, pengungsi wilayah Glagaharjo pada 26 Januari telah dipulangkan. Kemudian pada 27 Januari ada kejadian erupsi, sehingga pada Rabu malam warga sempat turun ke Barak Pngungsian Glagaharjo sekitar 41 orang.

“Paginya (28/1) yang pulang ada 36. Terus masih tersisa 5, pulang Kamis sore. Untuk wilayah Glagaharjo sudah tidak ada pengungsi. Tapi patroli jaga malam terus dilakukan,”  tambahnya. (mel/laz)

Nusantara