RADAR JOGJA – Pemkot dan warga Kota Jogja tidak akan melarang wisatawan berlibur. Asalkan tertib menjalankan protokol kesehatan 4M. Kota Jogja pun dinyatakan aman untuk dikunjungi. Jogja juga siap menyambut siapa saja.

Bahkan, HS, sapaannya, meminta masyarakat yang sudah booking tiket maupun hotel untuk tetap melanjutkan. “Please Wellcome Jogja. Kami terbuka dengan wisatawan,” ujar HS, disela inspeksi di Stasiun Tugu, kemarin sore (24/12).  Dalam kesempatan itu HS juga menekankan pentingnya 4M. “Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan,” kata HS.

Suami Tri Kirana Muslidatun itu pun tampak menyapa calon penumpang maupun penumpang kereta yang turun di Stasiun Tugu Jogja sore itu. Dia pun beberapa kali terlihat bercengkrama dengan calon penumpang kereta yang sedang menanti kedatangan kereta mereka. Dia juga sempat memeriksa persyaratan kesehatan seorang calon penumpang. “Nah ini sudah aman,” katanya sambal memperlihatkan identitas kesehatan seorang calon penumpang kepada wartawan.

HS menegaskan, adanya syarat wajib hasil rapid test antigen, adalah bentuk baru menyesuaikan Pandemi Covid-19. “Sama seperti ketika bepergian membawa STNK dan SIM, KTP dan identitas lain. Ini (rapid test antigen) bentuk identitas kesehatan,” tandasnya.

Harga rapid test antigen ini, dari pemantauan di Stasiun Tugu Rp 105 ribu. “Di Jogja ada di Stasiun Tugu dan Lempuyangan harganya sama Rp 105 ribu hasil kerjasama dengan PT RNI,” jelas Kepala PT KAI Daerah Operasional (Daops) VI Jogjakarta Asdo Atrivianto.

Asdo menjelaskan, rapid test antigen merupakan syarat mutlak untuk penumpang naik Kereta Api jarak jauh. Mereka wajib untuk membawa surat hasil rapid test antigen ini selain tiket dan KTP. “Kalau tidak bawa ya tidak bisa naik. Jika sudah dalam perjalanan nanti kami pantau tiga jam sekali suhu tubuhnya. Jika kedapatan suhu di atas 37,3 derajat Celsius, kami turunkan isolasi di kamar khusus KA sampai di stasiun besar terdekat,” katanya.

HS kembali menegaskan, di DIJ khususnya Kota Jogja, ketertiban penerapan protokol kesehatan menjadi nomor satu. Di DIJ prokes mencakup 4 M. Khusus bagi wisatawan, HS berharap, agar bisa mengikuti kebijakan pemerintah. Jangan kelonggaran Jogja dalam menerima wisatawan ini malah disalahgunakan.  “Masyarakat kita (Jogja) sudah tertib. Untuk itu, kami imbau wisatawan yang ke Jogja ya menjaga ketertiban prokes. Sudah bawa surat rapid test antigen di sini malah tidak tertib prokes.  Jadinya, tidak manfaat,” katanya.

Dengan adanya surat hasil rapid test antigen ini, jika masyarakat bisa tertib prokes, angka penularan virus Corona bisa ditekan. Wisatawan yang datang ke Jogja tidak menjadi carrier, begitu pun ketika pulang. “Wisatawan tidak tertular saat berwisata di Jogja,” jelasnya. (*/kur/pra)

Nusantara