RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar akan menggelar West Java Food & Agriculture Summit (WJFAS). Acara akan berlangsung di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Kamis (10/12).

Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar menjelaskan, dalam WJFAS, akan digelar high level meeting. Juga pertemuan petani Jabar dengan off-taker komoditas pertanian.

“Tujuannya tidak lain agar petani bisa menjual hasil panen. Sebab, selama ini banyak petani bingung menjual hasil panennya. Ternyata off-taker kami sudah memiliki pasar ekspor yang notabane cukup menjanjikan,” kata Benny di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (7/12).

Dia menjelaskan, kalau nanti petani yang ada di Jabar dapat memenuhi pasar ekspor, ini akan meningkatkan kesejahteraan petani. Menurut Benny, pada perhelatan yang disponsori Bank BJB tersebut sudah ada 84 off-taker di sektor pertanian dan peternakan yang berminat menampung produk petani dan peternak Jabar. Salah satunya adalah PT Bhanda Ghara Reksa (BGR).
Nantinya, kata Benny, PT BGR akan menampung produk pertanian dan peternakan di Jabar yang akan didistribusikan ke warung-warung dengan konsep e-warung.

“Nanti PT BGR ini menampung hasil pertanian yang nanti didistribusikan ke warung-warung mengenai konsep e-warung. Ini sudah mulai ada wujudnya,” ucapnya.

Dengan terbukanya pasar domestik maupun global, Pemprov Jabar berupaya mengubah wajah pertanian agar generasi milenial tertarik menggarap sektor pertanian dan peternakan.  Saat ini, pertanian dan peternakan belum diminati generasi milenial di Jabar. Padahal, generasi milenial diharapkan membawa perubahan kedua sektor tersebut pada masa depan guna menjaga ketahanan pangan Jabar.

Berdasarkan hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang.
Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen. Kondisi tersebut tentu memberikan efek domino bagi sektor pertanian di Jabar.

“Ketika anak muda kembali ke desanya, mereka mulai melakukan aktivitas ekonomi di perdesaan melalui sektor pertanian tadi. Di sini, Gubernur Jabar menginstruksikan agar membuat sesuatu yang bisa menarik para milenial ini memulai kegiatan pertanian, yang tentunya pasar. Inilah yang coba kita gali,” tambahnya.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar Taufik Saleh mengatakan, selain membuka pasar, Pemda Provinsi Jabar harus mendorong pemanfaatan teknologi di sektor pertanian.

“Jadi bagaimana budidaya pertanian, pangan, teknologi pembibitan bisa menghasilkan produk pangan yang lebih cepat atau menghasilkan panen lebih banyak dari kondisi yang normal,” kata Taufik.

Jika itu dilakukan, kata Taufik, generasi milenial tertarik menggerakkan sektor pertanian dan peternakan karena akan mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Selain itu, Taufik menyatakan,  WJFAS digelar guna memperkuat ketahanan pangan di Jabar. Apabila ketahanan pangan kuat, terutama di tengah pandemi Covid-19, inflasi dan stabilitas ekonomi di Jabar akan terjaga.

“Upaya menjaga ketahanan pangan sangat penting, terutama untuk mengawal inflasi yang rendah dan stabil, dan untuk memulihkan ekonomi,” ucapnya.

Sementara itu, Bank BJB juga membuktikan upaya mereka membantu petani dengan menyalurkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada para petani di Jawa Barat.

Kali ini penyaluran pembiayaan sebagai dukungan permodalan dilakukan kepada petani yang berada di Kabupaten Sukabumi. Realisasi pembiayaan secara simbolis dilakukan di Puncak Manis, Jalan Sukamanis, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi pada Selasa (3/11) lalu.

Pemimpin Divisi Corporate Secretary Bank BJB Widi Hartoto menyampaikan, kerja sama pembiayaan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen dalam upaya mendorong peningkatan kesejahteraan para petani Indonesia. Dalam kerja sama ini, Bank BJB menyalurkan pembiayaan dengan pola kemitraan. (*/ila)

Nusantara