RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi dalam sepekan. Mulai dari periode 20 hingga 26 November. Salah satunya yang sempat menjadi perhatian adalah guguran 22 November.

Pada awalnya aktivitas ini tidak terlaporkan dalam laporan harian BPPTKG. Hingga akhirnya ditemukan material guguran di sisi barat puncak Gunung Merapi. Tepatnya di wilayah hulu Kali Lamat.

“Guguran menuju arah barat laut. Tepatnya arah hulu Kali Lamat. Dengan jarak luncuran mencapai 1 kilometer dari puncak Gunung Merapi,” jelas Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida, Jumat (27/11).

Guguran tersebut, lanjutnya, teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Babadan Magelang Jawa Tengah. Sempat tak terlaporkan kejadian ini akibat kondisi visual Merapi yang tak nampak. Hingga akhirnya guguran material ditemukan selang sehari setelahnya.

Tak hanya itu, BPPTKG juga melaporkan adanya perubahan morfologi. Penyebabnya adalah runtuhnya dinding kubah lava Merapi 1954. Tepatnya berada di sisi utara dan jatuh ke area kawah di selatannya.

“Teramati perubahan morfologi di area puncak. Jadi runtuhnya sebagian kubah lava 1954. Penyebabnya adalah adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang membuat getaran di sisi dinding kubah lava,” katanya.

Deformasi Merapi juga mengalami pemendekan. Berdasarkan pemantauan melalui electronic distance measurement (EDM) dari reflektor RB1 dan RB2. Catatan Minggu ini, laju pemendekan jarak sebesar 11 centimeter perhari.

Berdasarkan catatan tersebut, intensitas aktivititas vulkanik masih cukup tinggi. Sementara untuk status tetap berada pada level Siaga. Sementara untuk potensi guguran lava didominasi arah selatan dan tenggara atau hulu Kali Gendol.

“Intensitas kegempaan lebih tinggi dibandingkan minggu lalu. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awanpanas sejauh maksimal 5 kilometer,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara